Lagi di rantau 2010

Lagi di rantau 2010
kawan-kawan seperjuangan
Hariadi Ahmad

Para Pejuang IKIP Mataram jalan Pemuda Mataram Nusa Tenggara Barat

Senin, 08 Desember 2014

EMPATI



EMPATI
Dr. dr. Limas Sutanto, SpKJ (K), M.Pd, Dplt. A.Psi


Makna Hakiki Empati:
  • Berpikir bersama konseli
  • Berpikir dengan konseli
  • (Bukan berpikir untuk konseli)
  • (Bukan berpikir tentang konseli)
Bagaimana dunia internal mengejawantahkan dalam konseling
  • Hubungan empatik selalu melibatkan saling pengaruh (interplay) pengalaman dunia dalam konseli dengan pengalaman dunia dalam konselor
  • Pengejawantahan dunia internal ke dunia eksternal dan relasi interpersonal terjadi melalui mekanisme identifikasi proyektif yang berlangsung secara nirsadar
-          Proyeksi
-          Identifikasi Introyektif
-          Identifikasi Proyektor (orang yang mencurahkan proyeksi)
Proyeksi
  • Seseorang mencurahkan bagian dari dunia internalnya ke orang lain dan dunia luar
  • Dalam curahan proyeksi itu terkandung perasaan, pikiran, gagasan dan representasi diri
Identifikasi Introyektif
Orang yang menerima curahan proyeksi (resipien) secara nirsadar mengidentifikasi dirinya dengan curahan proyeksi itu, dan merasakan tekanan interpersonal yang sama-sama untuk menjadi sama dan bertindak sama dengan curahan proyeksi itu.
Identifikasi Proyektor
Sang proyektor secara nirsadar mengidentifikasi dirinya dengan curahan proyeksinya sendiri, dank arena resipien terdorong untuk menjadi sama dengan curahan proyeksi itu, maka sang proyektor pun secara subyektif mengalami perasaan bersatu dengan resipien.


            Proyektor                                                                   Resipien
                                                            Proyeksi
                                    (Komponen Pertama Identifikasi Proyektif)

Proyektor                                                      Resipien
                                                Introyeksi Proyektif
                                    (Komponen Kedua Identifikasi Proyektif)

Proyektor                                                   Resipien
                                                Identifikasi Proyektor
                                    (Komponen Ketiga Identifikasi Proyektif)

Pentingnya Empati
  • Secara alamiah empati selalu tepat dan berlangsung dalam hubungan ibu-anak (mother-child dyad)
  • Konseling memiliki cirri-ciri yang serupa dengan cirri-ciri hubungan ibu-anak yang berhasil menumbuhkembangkan kepribadian si anak:
-          Perjumpaan manusiawi yang otentik
-          Empati
-          Pemuasan
-          Frustasi
  • Menghidupi dan memelihara relasi konseling dengan cara menyediakan “kendaraan” bagi konselor untuk menjadi tokoh yang secara emosional penting dan berpengaruh dalam kehidupan konseli.
  • Untuk konseli yang memiliki self-structure memadai: membantu mengaktualisasikan potensi-potensi yang tersimpan di dalam dirinya (Carl Rogers)
  • Untuk konseli yang memiliki self-structure kurang memadai: memperbaiki self-structure yang kurang memadai itu dengan cara membantu menyelesaikan proses perkembangan self yang selama ini berhenti (Heinz Kohut)
  • Kohut menyebut peran tersebut sebagai corrective emotional experience
  • Dalam terminology Eric Berne, peran yang diejawantahkan empati adalah reparenting.
  • Dalam terminology Winnicot, peran yang diejawantahkan empati adalah memungkinkan pengubahan false self menjadi true self.
Bagaimana mewujudkan empati?
  • Memvalidasi pengalaman konseling (memberi tanggapan validasi)
  • Memberi tanggapan dengan limit setting (memberikan tanggapan dengan pembatasan)
  • Memberikan lingkungan yang andall untuk menampung, menerima, melindungi, dan memberikan rasa aman (holding environment)

                                    Tida Unsur Teknikal Empati


Memvalidasi Perjalanan Konseli
  • Mendengarkan
  • Menerima
  • Mengintroyeksikan pengalaman konseli yang toksik
  • Memetabolisme pengalaman toksik-toksik itu sehingga menjadi kurang toksik
  • Me-mirror dan mengintroyeksikan kembali pengalaman yang kini sudah menjadi kurang toksik.
Kesulitan Memberi Tanggapan Validasi
  • Kesulitan terjadi karena penghambatan oleh perasaan konselor yang berkembang setelah konselor mendengarkan konseli mengungkap pengalaman dan perasaannya.
  • Berkembangnya perasaaan yang membuahkan penghambatan penyampaian tanggapan validassai itu terjadi karena “luka” konselor terusik atau karena penyampaian pengalaman dan perasaan konseli ternyata memencet tombol masalah dalam diri konselor.
Limit Setting response
  • Konselor menunjukkan sikap mengerti tentang kebutuhan dan keinginan konseli tanpa memberikan pemuasan actual
  • Tanggapan dengan “pembatasan” jika dikombinasikan dengan sikap hangat dan “tanggapan validasi” (tanggapan memvalidasi pengalaman)
  • Tanggapan dengan pembatasan (yang tidak serta merta memuaskan kebutuhan konseli) akan memungkinkan konseli mengeksplorasi pengalaman dan perasaannya secara lebih mendalam.
  • Tangggapan dengan pembatasan itu juga diperlukan untuk memberi pengaman yang bagi pelaksanaan konseling professional terutama pengaman dari tindakan tertentu oleh konseli.
Holding Environment, Cheristing Container
  • Berempati berarti menyediakan diri untuk menjadi wadah penampung yang penuh kasih saying bagi konseli yang sudah mengungkap dirinya seperti apapun sebagaimana adanya.
  • Empati bagaikan tempat atau ruang yang benar-benar andal untuk memberikan keleluasaan, kebebasan, perlindungan dan keamanan bagi pasien untuk menjadi diri sejati (true self), bukan seperti yang sering ia alami sebelumnya harus menjadi “diri palsu” (false self) karena orang lain dan lingkungan mengharuskan pasien menjadi diri sebagaimana mereka kehendaki.
  • Berempati berarti mengasuh dengan lebih menonjolkan ekspresi bagian feminim atau yin dari kepribadian konselor.

 

Senin, 02 Juni 2014

Self Advocacy_01



SELF ADVOCACY
oleh: Hariadi Ahmad
 
Brinckerhoff (1994) mengatakan self advocacy merupakan keterampilan yang dimiliki oleh individu untuk mengenali,  mengetahui kebutuhan dan ketidakmampuan dalam belajar tanpa mengorbankan hak dan martabat diri sendiri atau orang lain. Ada tiga keterampilan yang saling terkait dalam self advocacy yaitu: a) pengetahuan tentang apa yang diinginkan, b) pengetahuan tentang hak yang harus dimiliki secara hukum, c) kemampuan yang efektif dalam mencapai tujuan.
Menurut Van Reusen (1994;1996) mengatakan self advocacy sebagai  keterampilan yang dimiliki oleh individu dalam berkominikasi secara efektif, menyampaikan pendapat, bernegosiasi, menyatakan minat, keinginan, kebutuhan, dan hak-haknya, serta kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang di ambil (Van Reusen, Bos, Schumaker, & Deshler, 1994; Van Reusen, 1996).
Self advocacy sebagai pembelajaran bagi siswa sekolah menengah yang berfokus pada pengetahuan tentang hak dan tanggung jawab, keterampilan negosiasi, mengidentifikasi dan meminta akomodasi dan intruksi untuk berpartisipasi dan mengarahkan pendidikan sendiri (Pacock, 2002). Self advocacy didefinsikan sebagai kemampuan yang dimiliki oleh siswa dalam berbicara sesuai dengan apa yang diinginkan, dibutuhkan dan diharapkan dalam mencapai kesuksesan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan lapangan pekerjaan (Schreiner, 2007).
Self advocacy didefinisikan sebagai mempersiapkan diri dengan keterampilan yang diperlukan agar seorang individu agar merasa nyaman terhadap diri sendiri, menyatakan dengan jelas tentang kebutuhan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang di ambil (Kurpius & Rozecki, dalam Steele, 2008). Sementara itu Dr. Patricia Ganz menyatakan self advocacy mengetahui tentang kekurangan dan kelebihan dan secara potensial yang dapat memberdayaan diri untuk bertanggung jawab (NCCS, 2009).
Menurut Astramovich dan Harris (2007) menyatakan ada beberapa kompetensi self advocacy yang dapat dikembangkan kepada siswa dalam membantu menghilangkan hambatan dalam meraih kesuksesan pendidikan mereka, kompetensi tersebut berupa: kesadaran, pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi self advocacy yang dapat dilatihkan dan dikembangkan kepada calon konselor dan konselor sekolah antara lain pengetahuan dan keterampilan (Toporek, Lewis, & Crethar, 2009).
Dari pendapat ahli di atas self advocacy didefinisikan sebagai keterampilan yang dimiliki individu dalam mengenali dan mengetahui kekurangan, kelebihan, keinginan dan minat, dapat berkomunikasi secara efektif dalam menyampaikan pendapat, bernegoasiasi dalam memperoleh hak-haknya, serta dapat bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil tanpa mengorbankan hak dan martabat diri sendiri dan orang lain, sehingga dapat memperoleh kesuksesan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan lapangan pekerjaan.
Van Reusen (1996) mengemukakan ada empat komponen self advocacy, yaitu: 1) Keterampilan komunikasi, 2) Negosiasi, 3) Pengambilan keputusan, 4) Kesadaran tanggung jawab. Menurut Oregon Department of Education (2001) mengemukakan ada empat komponen self advocacy sebagai berikut: pertama, self awareness (kesadaran diri), kedua, Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, Ketiga, merencanakan tujuan masa depan, keempat, Keterampilan komunikasi.
Dari pendapat Van Reusen (1996) dan Oregon Department of Education (2001) tentang komponen-komponen self advocacy diatas, maka dapat disimpulkan bahwa komponen yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari : 1) kesadaran diri (self awareness), 2) keterampilan komunikasi, 3) keterampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, dan 4) kesadaran tanggung jawab.

Rabu, 16 Oktober 2013

Hakekat Analisis Tingkah Laku



HAKEKAT ANALISIS TINGKAH LAKU
oleh: Hariadi Ahmad
 
I.     Pengantar
Setiap individu menampilkan berbagai model atau karakter tingkah laku yang berbeda dan unik. Dalam uraian berikut kita akan membahas hakekat analisis tingkah laku dalam beberapa 2 aspek, yakni: tingkah laku dan analisis tingkah laku.
II.  Tingkah laku
a.    Apa tingkah laku itu?
Tingkah laku menurut Webster dictionary didefinisikan sebagai cara, gaya, sikap memimpin diri.  Ada juga yang mengatakan “cara kita bertindak”. Sementara itu menurut para psikologis behavior, tingkah laku didefinisikan sebagai tindakan yang eksternal atau internal yang kelihatan dan terukur dari suatu organism (behavior is any external or internal observable and measurable act of an organism). Di samping itu terdapat juga definisi yang berasal dari Skinner (1938), yang mendefinisikan tingkah laku sebagai “pergerakan organism atau bagian-bagian dari organism dalam sebuah kerangka acuan yang ditentukan oleh berbagai obyek eksternal”. Dari beberapa definisi ini kita dapat menyimpulkan bahwa tingkah laku adalah cara, sikap, gaya kita bertindak yang dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal

b.    Tingkah laku dapat diukur
Tingkah laku dapat diukur berdasarkan dimensi-dimensi sebagai berikut:
Ø Topografi : mengacu pada bentuk tingkah laku, misalnya: memukul, menangis, menulis, melempar, menggambar, menjawab pertanyaan, dst
Ø Jumlah: mengacu pada berapa kali (jumlah) tingkah laku muncul pada suatu periode waktu tertentu, misalnya memukul temannya 5 kali dalam 30 menit, mengerjakan 30 soal dengan benar dalam waktu 60 menit,dst
Ø Durasi : mengacu pada lamanya tingkah laku muncul, misalnya melukis gambar mobil selama 30 menit, menonton sepak bola selama 45 menit, dst
Ø Latensi : mengacu pada berapa lama waktu yang diperlukan untuk memunculkan tingkah laku, misalnya guru menyuruh murid membersihkan sampah, tingkah laku membersihkan sampah muncul 5 menit kemudian, dst
Ø Kekuatan : mengacu pada kuat lemahnya tingkah laku, mencuci celana sampai robek, berteriak, dst
Ø Tempat (locus) : mengacu pada tempat tingkah laku muncul, misalnya menyanyi di depan kelas, memukul teman di sekolah, dst
c.    Tingkah laku sebagai hasil belajar
Tingkah laku manusia paling banyak merupakan hasil dari satu atau lebih dari tiga factor yang biasanya bertindak bersama –sama. Tiga factor ini adalah:
1.    Factor keturunan atau factor genetic
2.    Perubahan psikologis yang terjadi pada kita setelah konsepsi (seperti efek dari penyakit dan kejadian)
3.    Pengalaman perubahan tingkah laku yang disebut dengan pembelajaran
Pembelajaran mengarah kepada kemahiran (acquisition), pemeliharaan (maintenance), dan perubahan dari tingkah laku organism sebagai hasil dari peristiwa (events) atau kejadian-kejadian sepanjang hidup. Tingkah laku meliputi hal itu semua juga meliputi tingkah laku yang tersembunyi seperti berpikir dan merasakan. Tingkah laku manusia diakibatkan oleh variasi sebab. Sebab-sebab tingkah laku itu berasal dari dalam dan dari luar diri manusia.
Asumsi dasar dalam analisis tingkah laku yakni bahwa semua tingkah laku dipelajari. Hal ini berarti bahwa baik tingkah laku bermasalah maupun tingkah laku normal ditunjukkan oleh murid karena tingkah laku itu telah dipelajari oleh murid tersebut. Bila kita memiliki murid yang patuh pada peraturan, bermain dengan baik bersama dengan temannya, dan tahu bagaimana menggunakahn bahan-bahan pelajaran dengan baik, kita biasanya mengatakan bahwa tingkah laku itu merupakan hasil didikan orang tua yang hati-hati  dan bertanggung jawab, yang patut menerima penghargaan karena telah mengasuh anak-anaknya dengan baik. atau juga kita akan mengatakan bahwa guru di kelas sebelumnya telah bekerja dan mengajar dengan baik. bila para murid di sekolah menunjukkan tingkah laku normal dan baik, secara otomatis kita menasumsikan bahwa orang-orang dewasa yang bertanggungjawab telah menghasilkan tingkah laku itu.
Persoalannya adalah, bagaimana dengan anak-anak yang suka membolos, yang sering berkelahi, atau duduk menyendiri pada saat istirahat? Bagaimana dengan anak-anak yang tidak dapat menangkap pelajaran atau mengalami kesulitan  dalam menggunakan waktu belajarnya? Bila kita menghadapi anak-anak bermasalah seperti ini biasanya kita akan mengatakan bahwa anak-anak ini mengalami gangguan emosional, mengalami gangguan kepribadian atau gangguan neuorologis. Biasanya kita akan menolak bahwa tingkah laku bermasalah tersebut juga merupakan suatu hasil belajar.

d.   Lingkungan mempengaruhi tingkah laku
Seringkali kita mendengar orang berbicara tentang beberapa macam perbedaan dari lingkungan. Beberapa istilah yang berhubungan dengan lingkungan itu antara lain adalah:
Ø  Lingkungan alami (natural environment). Kerap banyak orang berpikir tentang sesuatu yang besar di luar rumah atau tempat terbuka yang luas. Tetapi natural environment bisa juga berate lain. Seorang behaviorisme akan mengatakan lingkungan itu adalah lingkungan social. Ketika kita berpikir tentang lingkungan social berarti kita sedang berpikir tentang dunia nyata (real world) di mana kita menghabiskan waktu kita. bagi anak-anak, lingkungan alami ditendensikan sebagai ruang kelas. Di dalam kelas ada banyak factor yang bekerja bersama yang mempengaruhi  tingkah laku anak.
Ø  Prosthetic environment. Prosthetic environment adalah  lingkungan yang membantu individu untuk berkelakuan lebih menyukai teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan. Teman sebaya yang biasanya kita sebut sebagai teman bermain dapat membantu menyusun pembentukan tingkah laku dan juga cara mereka beradaptasi secara wajar.
Ø  Therapeutic environment. Therapeutic environment adalah lingkungan yang dimaksudkan untuk membantu anak (murid/siswa) untuk pada akhirnya menjadi lebih bebas (independent) dari lingkungannya dan dapat berperilaku lebih suka tipikal teman sebayanya ketika berada dalam natural environment. Seringkali anak dengan problem tingkah laku yang serius memerlukan sebuah tempat yang special atau ruang kelas yang special  di mana anak tersebut dapat mengungkapkan isi hatinya dan menjadi baik.
e.    Stimulus
Dalam hubungan dengan pemahaman tentang lingkungan ini kita perlu mengerti satu aspek spesifik dari lingkungan yang disebut dengan stimulus. Stimulus adalah istilah umum yang digunakan untuk mendeskripsikan aspek spesifik dari lingkungan yang dapat dibedakan dari satu dan lainnya. Dalam studi istilah stimulus biasanya digunakan dalam referensi pada variable-variabel lingkungan yang oleh individu yang melakukan eksperimen dikontrol atau dimanipulasi dalam beberapa  cara yang dapat menentukan pengaruh mereka pada tingkah laku yang tengah diselidiki. Stimulus dapat berupa kondisi, peristiwa, atau perubahan dalam dunia fisik. Stimuli terjadi baik di dalam maupun di luar tubuh, meskipun stimuli sebagian besar sering dikaji oleh analisis terapan tingkah laku di luar tubuh. Stimuli dapat berupa orang, tempat, dan sesuatu seperti cahaya, suara, rasa dan tekstur. Respon dan stimuli adalah konsep-konsep fundamental dalam menganalisis tingkah laku.
f.     Tingkah laku dapat diubah dengan mengubah lingkungan
Skinner dalam tesisnya mengatakan bahwa “When an organism acts upon the environment in which it lives, it changes that environment in ways that often affect the organism itself. Some of these changes are what the layman calls rewards, or what are generally referred to technically as reinforcers: when they follow behavior in this way they increase the likelihood that the organism will behave in the same way again” (Ferster &Skinner, 1957, p. 1). Dari sini kita dapat mengatakan bahwa lingkungan (environment) sangat mempengaruhi perubahan tingkah laku individu (organism). Perubahan tingkah laku itu bisa terbentuk karena reward (ganjaran, hadiah) atau bisa juga karena reinforcerment ( penguatan). Jika demikian maka tingkah laku itu sesungguhnya dapat diubah dengan mengubah lingkungan (dengan rewards dan reinforcement). Dengan kata lain bahwa tiap lingkungan dapat diatur kembali untuk mengajarkan bagaimana menunjukkan tingkah laku yang baru dan lebih adaptif bagi individu (organism)
g.    Tingkah laku bermasalah (maladaptive behavior)
Maladaptive behavior adalah tingkah laku yang tidak efektif dalam menerima tujuan atau cita-citanya dan atau konsekuensinya tak dikehendaki oleh yang lain. Kebalikan atau lawan dari tingkah laku ini adalah adaptive behavior, yaitu tingkah laku yang diterima secara social yang efektif atau fungsional dalam melayani tujuannya. Berikut disajikan beberapa asumsi dari tingkah laku bermasalah (maldaptive)
1.      Asumsi tingkah laku bermasalah dalam kajian pendekatan konseling behavior
·         Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negative ataun tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan
·         Tingkah laku yang salah hakekatnya yang terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah
·         Individu bermasalah ini mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negative dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptive terjadi juga karena kesalahpahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat
·         Seluruh tingkah laku individu di dapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar                                                                     
2.      Asumsi tingkah laku bermasalah dalam kajian pendekatan konseling Gestalt
·         Individu yang bermasalah terjadi karena pertentangan antara kekuatan “top dog” dan kebeadaan “under dog”. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam. Under dog adalah keadaan defensive, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi
·         Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self)
·         Terjadi pertentangan antara keberadaan social dan biologis
·         Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
·         Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang
·         Melarikan dari kenyataan yang harus dihadapi
·         Spectrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi:
o   Kepribadian kaku (rigid)
o   Tidak mau bebas bertanggung jawab, ingin tetap tergantung
o   Menolak berhubungan dengan lingkungan
o   Memelihara unfinished business
o   Menolak kebutuhan diri sendiri
o   Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih”
3.      Asumsi tingkah laku bermasalah dalam prespektif konseling rasional emotif
·         Dalam perspektif konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irasional
·         Ciri-ciri berpikir irasional
o   Tidak dapat dibuktikan
o   Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu
o   Menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif
·         Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional
o   Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang yang akan datang, antara kenyataan dan imajinasi
o   Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain
o   Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media
·         Indicator keyakinan irasional
o   Bahwa manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan
o   Bahwa banyak orang dalam kehidupan masyarakat bertindak tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan dan dihukum
o   Bahwa kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya
o   Bahwa lebih mudah menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu daripada berusaha untuk menghadapi dan menanganinya
o   Bahwa penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut
o   Bahwa pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang
o   Bahwa nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu
h.    Beberapa istilah berhubungan dengan tingkah laku
-          Behavior modification merupakan aplikasi dari hukum-hukum yang telah diperoleh dari pembelajaran atas tingkah laku manusia.
-          Target behavior adalah suatu target tingkah laku yang berfungsi untuk mengubah
-          Response adalah suatu tingkah laku yang dengan segera dan dengan prediksi mengikuti sesuatu yang terjadi di dalam lingkungannya
-          Trial adalah suatu term yang mengacu kepada satu usaha atau percobaan, pengulangan, atau contoh dari suatu tingkah laku, yang sering diterapkan dalam membangun suatu situasi untuk belajar (mempelajari) tingkah laku
-          Maladaptive behavior adalah tingkah laku yang tidak efektif dalam menerima tujuan atau cita-citanya dan atau konsekuensinya tak dikehendaki oleh yang lain.
-          Adaptive behavior adalah tingkah laku yang diterima secara social yang efektif atau fungsional dalam melayani tujuannya.
-          Verbal behavior adalah suatu kemampuan yang sangat penting dalam komunikasi dengan satu sama lain (tekanan pada kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi)
-          Mand adalah suatu permintaan atau permohonan, yang digunakan dalam terminology tingkah laku verbal yang artinya untuk meminta sesuatu.
-          Tact adalah term verbal behavior yang lain yang secara esensial berarti nama atau lebel sesuatu.
-          Covert behavior merupakan suatu tingkah laku yang tidak dapat secara langsung diobservasi atau diamati oleh public. Covert behavior mengacu kepada tingkah laku seperti berpikir, berimajinasi, berperasaan.
III.             Analisis tingkah laku
a.       Apa analisis tingkah laku itu?
Satu keuntungan yang besar dari penggunaan pendekatan behavior adalah untuk membantu memecahkan persoalan dengan menyusun metode evaluasi secara atas prosedur yang digunakan untuk treatmen terhadap masalah-masalah itu. Kemudian kita dapat membuat keputusan perlakuan atau tindakan yang didasarkan pada metode ilmu pengetahuan dan penilaian yang menggunakan obyek periistiwa dan data actual daripada pendapat dan pemikiran sendiri. Dengan pendekatan ini perlakuan dapat dilanjutkan, disesuaikan  atau bisa juga tidak dilanjutkan dan digantikan dengan didasarkan pada peristiwa dan obyek data.
Ketika seseorang melakukan tindakan atau tingkah laku tertentu, seringkali kita bertanya,”apa yang membuat seseorang itu melakukan tindakan atau bertingkah laku seperti itu”. Pertanyaan ini adalah wajar namun tidak ada jawaban yang memuaskan untuk semua kasus. Beberapa tingkah laku mungkin dibentuk (dilakukan) oleh orang yang berbeda dengan alasan yang berbeda, bisa juga tingkah laku itu dilakukan oleh orang yang berbeda dengan alasan yang sama dan orang yang sama mungkin membentuk atau melakukan tingkah laku yang sama pada saat atau waktu yang berbeda dengan alasan yang berbeda pula.
Behavior analysis adalah sebuah definisi yang  jelas mengenai prosedur yang dilakukan secara bertahap yang dapat digunakan oleh kita untuk memperbaiki tingkah laku murid atau seseorang. Selain itu dapat juga dapat dikatakan sebagai suatu metode menprediksikan (memperkirakan) suatu problem situasi dan merencanakan  apa yang akan dilakukan untuk memecahkannya (albert, p. 59).
b.      Fungsi analisis tingkah laku
Term analisis fungsional dan fungsional penilaian tingkah laku sering digunakan dalam pembicaraan tentang cara memandang dan mengira-gira masalah-masalah tingkah laku. Mereka harus melakukannya dengan  mengidentifikasi variable-variabel yang adalah fungsi sebuah tingkah laku, apa pun artinya.
Analisis fungsional mengacu kepada suatu pendekatan yang lebih didasarkan pada ilmu pengetahuan yang menyusun banyak factor atau variabel-variabel tak berubah (atau konstan), yang secara intensional mengubah factor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi target tingkah laku.
Fungsi penilaian tingkah laku adalah secara umum, suatu term yang lebih luas dalam mana sebuah fungsional behavioral assessment menyusun sebuah analisis fungsional, tetapi juga menyusun tipe-tipe informasi sebagai laporan ulang dan mewawancarai orang dewasa yang tahu anak-anak yang baik. tujuan adalah untuk mencapai pemahaman dari hubungan antara tingkah laku anak-anak dan variasi factor-faktor yang mungkin mempengaruhi tingkah laku.
c.       Bagaimana menganalisis tingkah laku
Menurut ABA terdapat 10 langkah dalam menganalisis tingkah laku yaitu
1.      Menentukan target tingkah laku. Langkah ini merupakan proses dua arah yaitu pertama mengidentifikasi tingkah laku yang akan dikurangi (diubah=sasaran deselerasi) dan kedua mengidentifikasi tingkah laku yang akan dikehendaki supaya muncul (sasaran akselerasi).
2.      Find the baseline
Mencari atau menemukan bagaimana sering anak membentuk (memainkan) target tingkah laku dibawah keadaan yang khas. Tujuan dari baseline adalah untuk membantu dalam memonitor target tingkah laku.
3.      Mengidentifikasi antecedent (perilaku yang mendahului). Dkl mengantisipasi antecedent dari target tingkah laku.
4.      note the place  (mencatat tempat), mengacu pada tempat tingkah laku muncul
5.      note the time (mencatat waktu), mengacu pada lamanya tingkah laku muncul
6.      mengidentifikasi konsekuen, mengacu kepada kejadian-kejadian yang menyertai suatu tingkah laku
7.      mengidentifikasi penguatan positif dan stimuli aversif
8.      merencanakan dan mengimplementasikan program
9.      monitor program
10.  mengevaluasi dan menyesuaikan program
Referensi:
Albert J. Kearney. 2008. Understanding Applied Behavior Analysis: An Introduction to ABA for Parents, Teachers, and other Professionals. Philadelphia: Jessica Kingsley Publishers
W. David Pierce dan Carl D. Cheney.  2004. Behavior Analysis and Learning. Mahwah, New Jersey: LAWRENCE ERLBAUM ASSOCIATES, PUBLISHERS