Berbakti dengan Ilmu

"Dalam meraih keberhasilan akan penuh dengan tantangan"

2 Juni 2017

MODEL PELATIHAN PROBLEM BASED LEARNING BAGI KONSELOR SEKOLAH DAN SISWA


1.         Pengertian Problem based learning
Model Pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning (PBL) dimulai di Mc Master University di Hamilton, Ontario, Kanada, pada akhir tahun 1960. Dalam wikipedia (2008) dikemukakan bahwa PBL adalah strategi pembelajaran dimana para siswa memecahkan masalah secara kolaboratif dan merefleksi pengalaman mereka. Karateristik PBL adalah: 1) belajar dikendalikan oleh tantangan, open-ended problem, 2) siswa bekerja dalam kelompok kolaboratif kecil, dan 3) pendidik berperan sebagai fasilatator belajar. White (2001) mengemukakan bahwa secara keseluruhan PBL adalah metode yang efektif untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah.
PBL mengakhiri orientasi siswa ke arah pembuatan makna terhadap fakta-fakta yang dikumpulkan. Dengan demikian, mereka dapat mengkostruksi sendiri pengetahuan dari fakta-fakta yang mereka kumpulkan. Para siswa belajar melalui serangkaian masalah dan situasi konstektual. Melalui kerja kelompok dinamis dan penyelidikan sendiri, mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, lebih mengembangkan belajar dan keterampilan membentuk pengetahuan dan juga keterampilan sosial (Rhem, 1998)
Thalib, dkk (2005) mengemukakan karakteristik pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut: (1) penyajian atau pertanyaan; pembelajaran berbasis maslah mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan maslah yang keduannya secara sosial penting dan secara pribadi berakna pada siswa, (2) berfokus pada keterkaitan antara disiplin; masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak hal, (3) penyelidikan autentik; pembelajaran berbasis maslah melakukan penyelidikan nyata terhadap maslah nyata, (4) menghasilakan produk atau karya dan memamerkannya; pembelajaran ini menuntut siswa menghasilakan produk tertentu dalam bentuk karya nyata dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk pemecahan masalah yang mereka tentukan, dan (5) kerjasama; pembelajaran ini dicirikan oleh siswa yangbekerja sama atau dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil
Kelompok kerja merupakan aspek penting dalam PBL karena (1) kelompok kerja membantu mengembangkan komunikasi belajar dimana pembelajar merasa senang mengembangkan ide baru dan memunculkan pertanyaan tentang materi, (2) kelompok kerja meningkatkan keterampilan komunikasi dan kemampuan pembelajar untuk mengelola kelompok secara dinamis, dan (3) kelompok kerja adalah menarik dan memotivasi pembelajar mereka menjadi terlibat aktif dalam bekerja dan mempunyai tanggung jawab untuk kegiatan mereka (White, 2001). Berdasar alasna-alasan tersebut, kelompok kerja tidak selalu dapat bekerja efektif, tampa petunjuk dan pedoman
PBL memiliki komponen penting yang perlu diperhatikan yakni (1) simplicity atau kesederhanaan, (2) clarity atau Kejelasan, (3) consistency atau konsisten, dan (4) Communication atau komunikasi ( Delisle, 1997). Dalam PBL perlu merubah peran, siswa bekerja pada apa yang dimiliki dan menyususn arahan sendiri, sementara fasilitator menyediakan panduan dan dukungan

 2.         Tahapan Problem-based Learning
Woods (2002) mengemukakan langkah-langkah dalam PBL yaitu sbb:
a.       Menemukan kelompok: mengenal anggota, menyusun aturan dasar, mendefinisikan peran tutor dan siswa
b.      Identifikasi maslah: menyelidiki masalah, curah pikir kemungkinan penyebab dan efek, menghasilkan ide
c.       Pembangkitan ide: menyelidiki masalah, curah pikir kemungkinan penyebab dan efek, menghasilkan ide
d.      Menyusun isu-isu belajar: menentukan apa yang siswa butuhkan untuk dicari agar masalah terpecahkan, menghasilkan isu belajar dan rencana kegiatan, merangkum dan merangkai isu-isu belajar
e.      Belajar mandiri: mencari informasi
f.        Sisntesis dan aplikasi: mengevaluasi sumber informasi untuk kreadibilitas dan reliabilitas, menerapkan pengetahuan penelitian yang relevan untuk masalah, melakukan berbagai informasi dengan teman sejawat, mengkritik pengetahuan, membangun lagi isu belajar jika diperlukan, diskusi dan menyusun solusi dan penjelasan
g.       Refleksi dan umpan balik: umpan balik sendiri dan teman sejawat pada fungsi kelompok, proses pemecahan maslah individu, belajar pengetahuan dan mandiri.
Mengadaptasi dari Air Quality Curriculum Project, Universitas of Nothern Arizona, Ramsay & Sorell (2006) tentang proses belajar berbasis masalah secara umum meliputi tujuh langkah yaitu:
Tahap
Prosedur Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
1
Pernyataan Masalah (problem statement)
Fasilitator memberikan pengantar untuk isu, latar belakang informasi untuk membantu siswa menentukan konteks dari masalah
2
Pertanyaan (the Question)
a)    Fasilitator memimpin diskusi di kelas dalam membantu mereka mennidentifikasi dengan pertanyaan:
1.    Apa yang mereka ketahui (Fakta dari masalah)?
2.    Apakah yang diperlukan untuk mengetahui (berapa fakta)?
3.    Apakah yang harus lebih banyak dipelajari (Pengetahuan dasar atau konsep-konsep sosial melalui penelitian, elaborasi dan defenisi-definisi)?
b)   Membentuk kelompok yang terdiri dari 3-5 orang
3
Rencana Tindakan ( action plan)
Masing-masing kelompok membuat rencana, bagaimanakah mereka akan menentukan informasi yang diperlukan, mengembangkan sumber-sumber yang dapat membantu investigasi
4
Investigasi (investigation)
Masing-masing kelompok melaksanakan rencana kegiatan mereka dan fasilitator memberikan arahan kepada siswa dalam melakukan searangkaian aktivitas untuk elaborasi dan identifikasi informasi tentang konsep-konsep yang mendasari. Pada tahap ini sering disebut dengan metakognitif
5
Merevisi kasus dan mengevaluasi (Revisting the case evualuation)
Ketika pekerjaan mandiri selesai, masing-masing kelompok mengumpulkan laporan pekerjaan mereka dan merevisi pertanyaan-pertanyaan
6
Produk akhir ( final product)
Tiap kasus dikumpulkan sebagai hasil dari kerja kelompok. Fasilotator akan melakukan investigasi ke masing-masing kelompok dengan memberikan beberapa pilihan yang mungkin sebagai hasil dan sebagai rencana untuk tindakan lebih lanjut
7
Evaluasi akhir dan umpan balik (final evaluation and feedback)
Siswa sebagai investigator mengevaluasi hasil mereka sendiri, hasil kerja team mereka, dan kualitas maslah itu sendiri

Ong Pheng Yen ( 2004 ) dalam successful PBL primary and secondrary classrooms mengeukakan bahwa proses belajar berbasis maslah secara umum meliputi delapan langkah yaitu:
a)    Prakegiatan
Sebelum kegiatan dimulai konselor/fasilitator menyiapkan siswa untuk melaksnakan PBL dan atau keterampilan yang dibutuhkan siswa dalam PBL. Menyiapkan siswa untuk dapat bekerja sama dalam kelompok.
Tugas Konselor:
a)      Membagi siswa menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 8 siswa sesuai ketentuan
b)      Membuat daftar siswa dan mencatat anggota kelompok
c)       Membangun suasana yang hangat dengan mengembangkan aktivitas mendengarkan, sharing, hubungan yang harmonis dan bersikap profesional melalui kegiatan ice-breaking yang tepat
d)      Memahami para siswa dan memfasilitasi komunikasi antara siswa
Tugas Peserta:
a)      Para siswa berintraksi dan berbagi informasi antara satu dengan yang lain mengenai gaya kerjasma yang dikuasai dalam kelompok
b)      Komitmen terhadap peraturan kelompok
c)       Membentuk pengurus kelompok
-          Ketua: Memfasilitasi diskusi dan memastikan fokus diskusi
-          Sekertaris : mencatat hal penting yang terjadi didalam diskusi
-          Reporter: mendengarkan hasil diskusi dan memresentasikan kesimpulan pada kelompok lain
-          Pencatat waktu: mengukur jalannya diskusi kelompok

b)   Kegiatan
1.       Peserta menagani permaslahan yang diberikan konselor/fasilitator
Tugas Konselor:
Konselor memberikan bahan permaslahan pada kelompok
Tugas peserta:
Siswa bekerja sama dalam kelompok bersama-sama menagani permaslahan yang diberikan konselor/fasilitator berdasar perspektif para stage holder (orang yang berperan didalam permaslahan tersebut)
2.       Memahami permaslahan
Konselor memberi waktu pada peserta untuk membaca dan berpikir, merefleksi dan membicarakan tentang bahan permaslahan (problem statement) yang telah diberikan
Tugas Konselor:
Membantu siswa berpikir dan menaksir pemahaman mereka terhadap problem jika mereka dapat mengembangkan pernyataan yang didalam problem
Tugas Peserta:
-          Mendiskusikan dan mengklarifikasi pernyataan secara obyektif dan mengartikannya
-          Menghadapi pernyataan permaslahan
3.       Mengutamakan kegiatan pengetahuan
Konselor mengajak peserta berpikir dan mengartikulasikan apa yang mereka ketahui tentang topik yang didiskusikan
Tugas Konselor:
Memandu siswa membuat kerangka berpikir; menuliskan apa yang sudah peserta ketahui,  dan apa yang mereka ingin ketahui dan ide/tindakan yang dilakukan
Tugas peserta:
-          Menganalisis problem
-          Membuat kerangka berpikir
4.       Brainstorm (curah Pendapat)
Tugas konselor:
-          Memandu siswa untuk aktif bekerja sama dan berpartisipasi didalam kelompok seperti memotivasi setiap siswa untuk dapat memberikan pendapat/gagasan/ide dengan terbuka, mendengarkan pendapat orang lain, menerima pendapat orang lain, dll
-          Memandu siswa untuk menuliskan pendapat/gagasan/ide tersebut.
Tugas peserta
Menulis apa yang mereka ketahui, apa yang mereka ingin ketahui dan ide/tindakan yang akan dilakukan
5.       Menjelaskan hasil hipotesis
Tugas konselor
-          Menanyakan pada siswa alasan kenapa mereka menjelaskan hasilnya tersebut
-          Memandu siswa dalam mengembangkan karya yang sesuai seperti; laporan, model-model, video-video
Tugas Peserta
-          Dari analisi permaslahan, hasilnya dijelaskan dan dihipotesiskan
6.       Mengidentifikasi permaslahan dan obyektifitas yang dipelajari
Tugas konselor
-          Terkait dengan hipotesis, kemudian konselor menanyakan kepada siswa apa selanjutnya yang dikerjakan
-          Memandu refleksi
Tugas peseta
-          Memberikan solusi terhadap pertanyaan yang muncul pada hipotesis
-          refleksi
7.       Mengidentifikasi sumber belajar
Tugas konselor
-          Mendapatkan laporan/kesimpulan proses pembelajaran
-          Memonitor jalannya diskusi
-          Memberikan saran, pertanyaan, memberikan kepastian
-          Mendorong setiap siswa untuk mengemukakan presepsinya terhadappermaslahan, dan memiliki kejelasan tentang “permaslahan” yang diberikan konselor pada kelompok
Tugas Peserta
-          Siswa mengidentifikasi sumber yang dibutuhkan dan dipikirkan dimna mereka mendapatkan informasi yang penting dalam memahami permaslahan secara mendalam.

Masalah yang digunakan PBL, secara umum dikelompokkan menjadi dua, yakni (1) masalah yang terstruktur (well-structure problem), dan (2) masalah yang tidak terstuktur (ill-structure problem). Jonassen (dalam Yetter et. Al, 2006) berpendapat bahwa masalah-masalah weel structured memerlukan penggunaan sejumlah aturan-aturan terbatas, dan mempunyai jawaban benar dan ditentukan proses pemecahannya, sebaliknya masalah-masalah ill stuctured tidak secara eksplisit menyatakan seluruh element mereka, ini mempunyai depenisi tujuan yang samar-samar, mempunyai bagian solusi ganda dan kriteria ganda untuk mengevaluasi pemecahan, dan mempunyai ambigu pada konsep, aturan atau prinsip yang dibutuhkan untuk memecahkannya
Dengan demikian PBL dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan manajemen komflik kolaboratif. PBL digunakan secara kelompok, hal ini memungkinkan anggota kelompok untuk dapat belajar secara kooperatif dan komunikatif (Marshall Cavendish Education, 2004). Kooperatif dan Komunikatif ini merupakan bagian dari menejemen komflik. PBL terdiri atas delapan langkah yaitu; 1) Persiapan, 2) Menagani Permasalahan, 3) Memahami permasalahan, 4) mengutamakan kegiatan pengetahuan, 5) brainsorm, 6) menjelaskan hasil hipotesis, 7) mengidentifikasi permasalahan dan obyetivitas yang dipelajari, 8) mengidentifikasi sumber belajar.
 
Daftar Rujukan
Marshall Cavendish International Education. 2004. Succesfull problem-based learning primary and secondary classroom. Singapure
Ramsay, J. & Sorell, E. 2006. Problem-based Learning: A Novel Approach to teacing safety, health and enviromental course. Journal of SH & E Reseach. 3 (2). 1 - 8
Rhem, J. 1998. Problem-based learning in the classroom. Association for supervision and curiculum development. Virginia USA
Thalib, A., Mardin, Alam, S,. Dan Tibarang, K. 2005. Peningkatan hasil belajar matematika melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada siswa SMP. Jurnal Ilmu Pendidikan, 2 (3). 253-266
White, H. (2001) Problem-Based Learning. Journal Speaking of Teaching. 11 (1) : 1 – 7
Wikipedia. 2008. Problem-based learning (online), (http://en.wikipedia.org/Problem-basedlearniang//Pressentingproblems to learnes,diakses tanggal 25 April 2010.
Woods, D.R. 2002. Large class and problem-based learning. Halminton: Mc Master University

EMPATI Oleh Dr. dr. Limas Sutanto, SpKJ (K), M.Pd, Dplt. A.Psi



Makna Hakiki Empati:
  • Berpikir bersama konseli
  • Berpikir dengan konseli
  • (Bukan berpikir untuk konseli)
  • (Bukan berpikir tentang konseli)
Bagaimana dunia internal mengejawantahkan dalam konseling
  • Hubungan empatik selalu melibatkan saling pengaruh (interplay) pengalaman dunia dalam konseli dengan pengalaman dunia dalam konselor
  • Pengejawantahan dunia internal ke dunia eksternal dan relasi interpersonal terjadi melalui mekanisme identifikasi proyektif yang berlangsung secara nirsadar
-          Proyeksi
-          Identifikasi Introyektif
-          Identifikasi Proyektor (orang yang mencurahkan proyeksi)
Proyeksi
  • Seseorang mencurahkan bagian dari dunia internalnya ke orang lain dan dunia luar
  • Dalam curahan proyeksi itu terkandung perasaan, pikiran, gagasan dan representasi diri
Identifikasi Introyektif
Orang yang menerima curahan proyeksi (resipien) secara nirsadar mengidentifikasi dirinya dengan curahan proyeksi itu, dan merasakan tekanan interpersonal yang sama-sama untuk menjadi sama dan bertindak sama dengan curahan proyeksi itu.
Identifikasi Proyektor
Sang proyektor secara nirsadar mengidentifikasi dirinya dengan curahan proyeksinya sendiri, dank arena resipien terdorong untuk menjadi sama dengan curahan proyeksi itu, maka sang proyektor pun secara subyektif mengalami perasaan bersatu dengan resipien.


            Proyektor                                                                   Resipien
                                                            Proyeksi
                                    (Komponen Pertama Identifikasi Proyektif)

Proyektor                                                      Resipien
                                                Introyeksi Proyektif
                                    (Komponen Kedua Identifikasi Proyektif)


Proyektor                                                   Resipien
                                                Identifikasi Proyektor
                                    (Komponen Ketiga Identifikasi Proyektif)

Pentingnya Empati
  • Secara alamiah empati selalu tepat dan berlangsung dalam hubungan ibu-anak (mother-child dyad)
  • Konseling memiliki cirri-ciri yang serupa dengan cirri-ciri hubungan ibu-anak yang berhasil menumbuhkembangkan kepribadian si anak:
-          Perjumpaan manusiawi yang otentik
-          Empati
-          Pemuasan
-          Frustasi
  • Menghidupi dan memelihara relasi konseling dengan cara menyediakan “kendaraan” bagi konselor untuk menjadi tokoh yang secara emosional penting dan berpengaruh dalam kehidupan konseli.
  • Untuk konseli yang memiliki self-structure memadai: membantu mengaktualisasikan potensi-potensi yang tersimpan di dalam dirinya (Carl Rogers)
  • Untuk konseli yang memiliki self-structure kurang memadai: memperbaiki self-structure yang kurang memadai itu dengan cara membantu menyelesaikan proses perkembangan self yang selama ini berhenti (Heinz Kohut)
  • Kohut menyebut peran tersebut sebagai corrective emotional experience
  • Dalam terminology Eric Berne, peran yang diejawantahkan empati adalah reparenting.
  • Dalam terminology Winnicot, peran yang diejawantahkan empati adalah memungkinkan pengubahan false self menjadi true self.
Bagaimana mewujudkan empati?
  • Memvalidasi pengalaman konseling (memberi tanggapan validasi)
  • Memberi tanggapan dengan limit setting (memberikan tanggapan dengan pembatasan)
  • Memberikan lingkungan yang andall untuk menampung, menerima, melindungi, dan memberikan rasa aman (holding environment)

                                    Tida Unsur Teknikal Empati


Memvalidasi Perjalanan Konseli
  • Mendengarkan
  • Menerima
  • Mengintroyeksikan pengalaman konseli yang toksik
  • Memetabolisme pengalaman toksik-toksik itu sehingga menjadi kurang toksik
  • Me-mirror dan mengintroyeksikan kembali pengalaman yang kini sudah menjadi kurang toksik.
Kesulitan Memberi Tanggapan Validasi
  • Kesulitan terjadi karena penghambatan oleh perasaan konselor yang berkembang setelah konselor mendengarkan konseli mengungkap pengalaman dan perasaannya.
  • Berkembangnya perasaaan yang membuahkan penghambatan penyampaian tanggapan validassai itu terjadi karena “luka” konselor terusik atau karena penyampaian pengalaman dan perasaan konseli ternyata memencet tombol masalah dalam diri konselor.
Limit Setting response
  • Konselor menunjukkan sikap mengerti tentang kebutuhan dan keinginan konseli tanpa memberikan pemuasan actual
  • Tanggapan dengan “pembatasan” jika dikombinasikan dengan sikap hangat dan “tanggapan validasi” (tanggapan memvalidasi pengalaman)
  • Tanggapan dengan pembatasan (yang tidak serta merta memuaskan kebutuhan konseli) akan memungkinkan konseli mengeksplorasi pengalaman dan perasaannya secara lebih mendalam.
  • Tangggapan dengan pembatasan itu juga diperlukan untuk memberi pengaman yang bagi pelaksanaan konseling professional terutama pengaman dari tindakan tertentu oleh konseli.
Holding Environment, Cheristing Container
  • Berempati berarti menyediakan diri untuk menjadi wadah penampung yang penuh kasih saying bagi konseli yang sudah mengungkap dirinya seperti apapun sebagaimana adanya.
  • Empati bagaikan tempat atau ruang yang benar-benar andal untuk memberikan keleluasaan, kebebasan, perlindungan dan keamanan bagi pasien untuk menjadi diri sejati (true self), bukan seperti yang sering ia alami sebelumnya harus menjadi “diri palsu” (false self) karena orang lain dan lingkungan mengharuskan pasien menjadi diri sebagaimana mereka kehendaki.
  • Berempati berarti mengasuh dengan lebih menonjolkan ekspresi bagian feminim atau yin dari kepribadian konselor.