Lagi di rantau 2010

Lagi di rantau 2010
kawan-kawan seperjuangan
Hariadi Ahmad

Para Pejuang IKIP Mataram jalan Pemuda Mataram Nusa Tenggara Barat

Senin, 22 Maret 2010

Analisis Pengubahan Tingkah laku

HAKEKAT ANALISIS TINGKAHLAKU

Analisis Consequent (Negatif)

oleh: Hariadi Ahmad dan Muthmainnah

A. CONSEQUENCES

Consequences adalah kejadian-kejadian yang menyertai suatu tingkah laku yang berfungsi untuk meningkatkan/memperkuat atau mengurangi tingkah laku. Sedangkan konsekuensi merupakan akibat langsung dari suatu tingkah laku setelah tingkah laku itu terjadi yang mengakibatkan suatu tingkatan tertentu dari tingkah laku tersebut. Pengaruh perilaku konsekuensi melalui suatu proses yang disebut: Operant Conditioning (Pengaruh keadaan Operant). Operant Conditionin merupakan berbagai cara umum yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dalam Operant Conditioning terjadi suatu tingkah laku tertentu yang terjadinya tergantung dari apa yang benar-benar terjadi setelahnya. Pengaruh Operant Conditioning mengacu pada suatu proses dimana terjadinya tingkah laku yang sedikit dimodifikasi oleh konsekuensi dari tingkah laku (Reynolds, 1968)

Positive Reinforcement

Positive Reinforcement (Penguatan positif) yaitu konsekuensi yang membuat tingkah laku akan lebih mungkin untuk terjadi lagi dimasa yang akan datang. Biasanya reinforcer adalah sesuatu yang diperkuat oleh pengalaman individu yang menyenangkan atau bermanfaat, seperti es krim coklat. Reinforcer bisa datang dalam bentuk terukur atau tak terukur, seperti permen atau senyum dari sesorang yang kita sukai, ini sangat menggoda kita untuk mendapatkannya.

Primary Reinforcer (Reinforcer primer)

Primary Reinforcer (Reinforcer primer) adalah tingkah laku yang menguatkan untuk diri sendiri umumnya berhubungan untuk membantu kehidupan kita, misalnya makanan dan minuman secara alami menguatkan kita untuk mengambilnya pada saat kita lapar dan haus (sataus dari sedang lapar dan haus menjadikan suatu peristiwa).

Secondary reinforcer, conditioned reinforcer.

Reinforcer sekunder biasanya berupa ucapan seperti memuji, berterimakasih atau memberikan suatu kehormatan dan anugerah yang pada hakekatnya akan menguatkan diri mereka sendiri.

Extrinsic reinforcer

Extrinsic reinforcer yaitu reinforcer yang terukur atau konsekuensinya jelas terlihat, bisa dirasakan, bisa disentuh dan sebagainya. Contohnya Acul bin Hasrul memainkan gitar karena diminta oleh Sari karena akan diberi hadiah apabila mau memeinkan gitar

Intrinsic reinforcer

Intrinsic reinforcer yaitu suatu tingkah laku yang akan memperkuat dirinya sendiri. Aktifitas kreatif sering dipertimbangkan sebagai reinforcer. Contohnya Acul bin Hasrul memainkan gitar dan bernyanyi karena keinginannya sendiri (hobi). Jadi dalam hal ini sebenarnya kita tidak bisa menambahkah konsekuensi kepada Hasrul untuk memainkan gitarnya

Automatic reinforcement, (Penguatan otomatis)

Automatic reinforcement, (Penguatan otomatis) yaitu tingkah laku yang tidak ada hubungannya dengan interaksi orang lain, tapi tingkah laku tersebut dapat merugikan diri sendiri. Contohnya tingkah laku merokok. Pengaruh nikotin dan pola tingkah laku self-stimulating nya sebenarnya merugikan diri sendiri. Hal ini adalah contoh dari penguatan otomatis dan beberapa tingkah laku self-injurious (SIBs) yang dipertahankan dengan penguatan otomatis.

Social reinforcement (Penguatan social)

Social reinforcement (Penguatan social) adalah salah satu jenis penguatan sekunder yang melibatkan pemberian perhatian dari pihak lain. Bergantung kepada keadaan sosial dan siapa perhatian berasal, perhatian mereka mungkin dapat menguatkan atau mungkin tidak menguatkan. Peristiwa yang sama dapat melibatkan kedua reinforcer (primer dan sekunder).

Generalized reinforcer (reinforcer yang disamaratakan)

Sebagai tambahan dari reinforcer terkondisikan, maka generalized reinforcer misalnya uang, tanda, bintang, chip, titik dan berbagai macam reinforcer yang dapat ditukar.

Backup reinforcer

Generalized reinforcer tidak akan efektif kecuali jika mereka mempunyai backup reinforcer dangan yang dapat diperoleh sebagai pertukaran dengan generalized reinforcer. Backup reinforcer (misalnya TV, mobil, pakaian, boneka, buku, makanan kecil, hak istimewa, dsb.)

Edibles (hadiah yang dapat dimakan)

Makanan dapat digunakan sebagai salah satu reinforcer, hal ini sering dikenal sebagai edible. Bentuk edible biasanya potongan kecil dari makanan, seperti kacang, biskuit kering/crackers, buah anggur dan lainnya. Pada skema dasar pemikiran, penggunaan makanan khususnya permen dan beberapa bahan sehat lainnya dimaksudkan sebagai suatu keadaan sementara, dengan harapan suatu saat dapat digantikan dengan reinforcer sosial atau reinforcer alami.

Contrived reinforcement (Mengusahakan Penguatan)

Contrived reinforcement adalah suatu istilah yang digunakan oleh Skinner untuk menunjuk secara khusus konsekuensi tiruan pada tingkah laku. Reinforcer tidak dapat terjadi secara alami dari tingkah laku yang diusahakan.

Satiation

Suatu pertimbangan penting kedua yang harus dilakukan adalah dengan menerapkan satiation atau deprivation dengan memberikan penghargaan pada reinforcer yang dimaksud. Contoh jika Anda memakan coklat itu terus menerus, meskipun awalnya ini menjadi reinforcer, tapi hal ini mungkin akan menjadi punish (hukuman), karena rasa coklat yang mungkin akan membosankan (tidak nikmat lagi). Ketika waktu telah berlalu, maka rasa coklat dapat berubah fungsi lagi menjadi reinforcer.

Habituation

Pada dasarnya digunakan untuk mengubah sesuatu, biasanya digunakan untuk sesuatu yang baru atau perhatian kita yang menginginkan keadaan yang lebih baik daripada yang biasanya dilakukan. Di sisi lain kita dapat menggunakannya untuk mengubah hal-hal yang tidak menarik dan dapat digunakan sebagai reinforcer positif.

Negative reinforcement

Beberapa orang mengasumsikan penguatan negatif sama dengan hukuman padahal dua hal ini berbeda, Penguatan negatif tidak memperlemah perilaku, penguatan negatif lebih pada tahap di mana frekuensi tingkah laku umumnya meningkat atau diperkuat. Ada dua jenis penguatan negatif, yaitu :

· Escape, yaitu dimana tingkah laku terjadi dan berakhir pada situasi aversive. Misalnya ketika malam hari kita membunyikan alarm (jam weker) agar bisa bangun pagi. Ketika alarm berbunyi di pagi hari (sesuai jam yang kita setel), maka secara otomatis tyangan kita kanm mematikan bunyi alarm karena bising.

· Avoidance; jenis reinforcement negatif yang kedua adalah avoidance. Dalam hal ini kita dapat membuat suatu cara tertentu untuk menghindari tingkah laku aversive sebelum terjadi. Misalnya ketika kita mengendarai kendaraan dengan cepat kemudian kita melihat ada polisi, maka kita akan mengurangi kecepatan supaya tidak mendapat tilang.

Extinction

Extinction ialah proses penghentian pemberian reinforcement secara mendadak dalam rangka mengurangi sasaran deselerasi. Misalnya awalnya agar anak terbiasa, maka orang tua sering memberikan iming-iming hadiah dengan tujuan agar anak mau melakukan hal baik yang akan menjadi kebiasaan. Setelah kebiasaan terbentuk, orang tua akan menghilangkan hadiah tersebut.

Extinction burst

Dalam sebuah situasi nyata, extinction merupakan cara yang baik untuk mengatasi kemarahan. Tapi hal ini akan berhubungan dengan tingkat kesabaran untuk menghilangkan tingkah laku tidak baik. Kadangkala seseorang yang menggunakan jadwal extinction menunjukkan peningkatan yang temporer/sementara dalam frekuensi dan intensitas dari target tingkah laku sebelum adanya penurunan tingkah laku. Peningkatan sementara atau temporer ini disebut extinction burst.

Extinction memerlukan waktu dan sebaiknya tidak diterapkan apabila belum memiliki waktu untuk menetapkan target tingkah laku. Anda harus bersabar. Jika extinction diterapkan dan gagal, maka kesempatan untuk mencapai target tingkah laku hanya akan bertambah buruk. Extinction sebaiknya dikombinasikan atau dipadukan dengan reinforcenment positif.

Response cost

Response cost dapat didefinisikan sebagai suatu penghapusan dari sejumlah reinforcer yang mengikuti suatu target respon yang berakibat mengurangi kemungkinan terjadinya respon di masa depan. Beberapa orang menganggap respon cost sebagai salah satu bentuk hukuman. Secara logis, respon cost bisa dianggap sebagai hukuman negatif. Respon cost terlihat lebih efektif dan lebih sedikit dampak yang tidak diinginkan daripada pemberian hukuman.

Jadwal pemberian reinforcement

Orang pada umumnya tidak dapat menjadi reinforce setiap waktu mereka inginkan. Sedikit tingkah laku mereka yang tidak selalu direinforcer dalam lingkungan yang alami. Seyogyanya, orang-orang biasanya tidak dapat dikuatkan setiap waktu. Paling tidak perilaku mereka tidak dapat selalu menjadi kuat pada lingkungan alami. Oleh karena itu perlu membuat jadwal pemberian reinforcement.

Reinforcement yang berkelanjutan (continous reinforcement)

Ketika orang menerima penguatan setiap kali mereka melakukan suatu perilaku tertentu, maka kita dapat mengatakan mereka berada di atas satu penguatan jadwal berkelanjutan (continous reinforcement). Ini biasanya cara yang paling cepat untuk mengubah perilaku baru. Penguatan berkelanjutan tidak perlu untuk memelihara atau mempertahankan perilaku sebenarnya karena hal ini justru tidak efisien dan tidak terlalu praktis.

Reinforcement intermittent (berselang-seling, reinforcement sebagian)

Dalam reinforcement parsial, tingkah laku kadangkala diberikat penguatan, tapi tidak selalu. Ada empat macam jadwal intermittent reinforcement. Dua dari jadwal didasarkan pada jumlah tingkah laku yanag ditunjukkan dan dua jadwal lainnya didasarkan pada lamanya waktu sejak tingkah laku yang dikuatkan terjadi.

B. PUNISHMENT

Hukuman adalah suatu tindakan memberikan konsekuensi yang tidak menyenangkan yang mengikuti tingkah laku yang tidak baik. Salah satu hal yang paling kontroversial dalam modifikasi tingkah laku adalah penggunaan kontrol aversif, yaitu hukuman secara khusus. Banyak orang menentang penggunaan hukuman dalam alasan-alasan etis. Sementara pihak lain mengatakan hal ini tidak menjadi masalah. Pihak lain pun masih mencegah penggunaan hukuman sesedikit mungkin karena dalam penerapannya muncul banyak masalah yang pantas dipertimbangkan. Murray Sidman menulis sebuah buku hebat yang berjudul Coercion and its Fallout (1989) yang mendiskusikan tentang penggunaan hukuman dan masalah-masalahnya.

Secara etis hukuman digunakan secara luas dalam setting pendidikan, hal ini mungkin bermanfaat untuk menjawab beberapa permasalahan yang diperoleh dalam menggunakan hukuman.

Pertama, salah satu permasalahan dalam penggunaan hukuman adalah bahwa hukuman cenderung menekan daripada menghilangkan perilaku. Hal ini berarti bahwa hukuman yang diterapkan pada individu mungkin sekedar untuk menekan sementara, ketika hukuman tidak diberikan maka tingkah laku akan muncul kembali. Hal ini mungkin bisa menekan sementara, bukan menghilangkan.

Kedua, dampak dari pemberian hukuman sering terlihat tidak spesifik untuk situasi tertentu. Disini terdapat sedikit generalisasi pada situasi lain daripada ketika reinforcement digunakan.

Behavioral contrast (tingkah laku yang berlawanan) Pada umumnya, jika tingkah laku mendapatkan hukuman dan menekan dalam sebuah situasi, hal ini mungkin justru akan meningkat pada situasi lain ketika hukuman tidak lagi diberikan. Hal ini disebut behavioral contrast.

Ketiga, posisi dimana hukuman terjadi menjadikan tingkah laku aversif pada orang yang dihukum. Seberapa sering kita mendengar cerita tentang orang yang tidak ingin kembali ke tempat dimana hal buruk menimpanya? Reaksi emosi mereka merespon posisi yang dapat membuatnya pergi menghindari kembalinya tindakan yang tidak diinginkan.

Keempat, orang dewasa yang menghukum sering menjadi aversif pada anak yang dihukum. Hal ini membuat anak sulit untuk mengontrol tingkah laku dalam berbagai hal. Ingatkah pada saat kita berbicara tentang orang tua yang memberikan reinforcement bersyarat? Dengan cara yang sama, hukuman dapat menjadi stimulus aversif yang membawa rasa takut dan rasa tidak suka terhadap hukuman mereka.

Kelima, beberapa model hukuman untuk tingkah laku justru menunjukkan peningkatan. Menugaskan satu halaman ekstra dari soal matematika sebagai satu rieiko hukuman, tanpa disengaja justru memperkuat ketidaksukaan anak pada pelajaran matematika. Tentunya akibat sampingan ini tidak dikehendaki.

Keenam. Beberapa percobaan hukuman mungkin menjadi tidak aversif pada orang yang mencoba untuk menghukum.

Ketujuh, sama halnya reinforcer cenderung menjadi kurang efektif kalau terlalu sering digunakan dan banyak punishment menjadi tidak efektif kalau terpakai terlalu banyak. Ingat habituation?

Kedelapan. Sejak menggunakan hukuman mungkin tugas akan cepat terselesaikan dan bisa menekan perilaku yang tidak dikehendaki. Orang yang menghukum biasanya akan menggunakan hukuman lagi apabila dirasa hukuman dapat mengurangi atau menekan perilaku tidak baik.

C. REINFORCEMENT

Reinforcement ialah hubungan fungsional antara tingkah laku dengan semua peristiwa yang menyertai tingkah laku. Istilah yang lain yang berhubungan dengan reinforcement adalah reinforcer. Reinforcer adalah segala sesuatu yang dirancang untuk meningkatkan tingkah laku. Ada beberapa bentuk reinforcer yang digunakan untuk meningkatkan sasaran akselerasi, yaitu:

1. Reinforcer Primer yaitu reinforcer yang memiliki dampak biologis bagi individu. Reinforcer primer yang biasa digunakan untuk meningkatkan sasaran akselerasi berupa makanan dan minuman

2. Reinforcer sekunder, terdiri atas:

a. Reinforcer sosial dapat berupa:

- Ekspresi; misalnya senyuman, anggukan kepala, acungan jempol, mengacungkan tinju (ekspresi negatif)

- Sentuhan; misalnya usapan di kepala, di punggung, jambakan di rambut (sentuhan negatif)

- Kedekatan; misalnya pemberian kesempatan untuk duduk di dekat guru

- Kata-kata/kalimat pujian; misalnya ucapan “baik”, pekerjaanmu bagus, dan yang lain

- Hak istimewa; misalnya pemberian kesempatan untuk menggunakan mainan tertentu, menempelkan hasil karya di dinding atau papan kelas

b. Kegiatan; misalnya membaca buku dipojok kelas, atau bermain game di komputer atau akses internet gratis

3. Reinforcer Umum, biasanya berupa token economy, pada prinsifnya token ekonomi sama dengan sistem kupon yang umumnya digunakan dalam perdagangan untuk mendapatkan hadiah dari suatu produk tertentu, misalnya, dengan mengumpulkan 5 kupon yang terdapat pada suatu produk tertentu, pembeli berhak mendapat sebuah gelas atau piring. Token economy adalah simbol yang digunakan dalam pengubahan tingkah laku yang memiliki nilai tertentu. Simbol-simbol itu dapat berupa misalnya kancing baju, stiker, kupon untuk makanan atau minuman, stempel dan lainnya. Token economy tidak ada artinya bila tidak disertai adanya reinforcer yang sebenarnya (back-up reinforcer). Oleh karena itu dalam menggunakan token economy harus merancang back-up reinforcer dengan cermat.

Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan reinforcer adalah jadwal pemberian reinforcer antara lain:

Fixed Ratio (FR)

Jadwal pertama yaitu jadwal fixed ratio dimana individu selalu diberikan penguatan untuk jumlah waktu yang sama agar terjadi target pengubahan tingkah laku. Contohnya seorang sales akan menerima komisi/bonus setiap kali bisa menjual empat sepatu atau seorang anak akan memperoleh bintang apabila dapat menjawab 10 pertanyaan dengan baik.

Variabel ratio (VR)

Jadwal kedua adalah variable ratio. Dalam variable schedule ratio, sejumlah respon diperlukan untuk menjaga reinforcement yang diubah.

Fixed Internal (FI)

Dua jadwal tersebut didasarkan pada waktu yang disebut interval schedule. Dalam interval schedule hal ini tidak menjadi masalah seberapa lama sebuah tingkah laku terbentuk, sepanjang hal ini terjadi.

Variabel Interval (VI)

Disini terdapat jadwal variabel interval. Pernahkah Anda mencoba menghubungi seseorang dengan telepon tapi yang terdengar nada bunyi sibuk? Kita mencoba menghubungi lagi ketika sudah tidak sibuk. Hal ini tidak menjadi masalah bagaimana waktu kita mencoba. Tapi kesuksesan pertama ketika kita dapat menghubungi dapat menjadi penguat.

Thinning ; adalah proses dimana kita mengubah jadwal dari reinforcement berkelanjutan ke reinforcement bagian. Secara perlahan-lahan, hampir bahkan tidak diperhatikan, sejumlah tingkah laku yang diinginkan untuk diberikan peningkatan reinforcement, tapi sebuah rata-rata cukup rendah, sehingga tingkah laku yang diinginkan tidak dapat dihilangkan untuk mengurangi reinforcement yang cukup.

A. DESELERASI

Deselerasi yaitu tingkah laku yang akan dikurangi. Ada dua macam teknik yang digunakan untuk mengurangi sasaran deselerasi, yaitu (1) penggunaan Reinforcement, dan (2) penggunaan Punisment/hukuman. Teknik tersebut dilakukan secara bertahap. Hal ini berarti bahwa untuk mengurangi sasaran deselerasi digunakan teknik yang paling ringan ke yang paling berat. Teknik-teknik penggunaan sasaran deselerasi sebagai berikut:

Level I : Strategi penggunaan reinforcement

Strategi ini merupakan strategi yang digunakan untuk mengurangi tingkah laku dengan cara mengunakan reinforcement. Ada tiga tahap penggunaan strategi ini yaitu;

a. Strategi pemberian reinforcement untuk tingkahlaku menurun. Pada tahap ini reinforcer diberikan bila sasaran deselerasi dapat berkurang atau bertambah jumlahnya sampai pada suatu priode waktu tertentu

b. Strategi pemberian reinforcement untuk tingkah laku menghilang. Pada tahap ini reinforcement diberikan bila sasaran deselerasi tidak muncul sama sekali dalam suatu priode tertentu

c. Stategi pemberian reinforcement untuk tingkahlaku pengganti. Pada tahap ini reinforcement diberikan bila sasaran deselerasi menurun disertai dengan munculnya sasaran akselerasi

Level II : Extinction

Extinction ialah proses penghentian pemberian reinforcement secara mendadak dalam rangka mengurangi sasaran deselerasi. Apabila kita ingin mengurangi frekuensi sebuah tingkah laku khusus, maka kita harus meyakinkan bahwa target tingkah laku telah tercapai. Proses dimana tingkah laku dieliminasi oleh reinforcement disebut extinction. Ketika dipergunakan dengan baik, extinction sebaiknya dipadukan dengan penguatan positif (positive reinforcement). Apabila anak tidak diberikan penguatan yang baik, maka anak akan mengembangkan kebiasaan buruk lain.

Level III : Penghapusan Stimulus

Ada dua macam prosedur pada tahap ini yaitu: denda dan time-out.

a. Denda, yaitu prosedur pengurangan sasaran deselerasi dengan cara mengambil kembali reinfocerment yang telah diberikan, sistem ini banyak dilakukan bila reinforcer yang digunakan token economy

b. Time-out, yaitu prosedur mengurangi sasaran deselerasi yang dilakukan dengan cara mengeluarkan individu/siswa dari situasi tertentu yang mengganjar dalam suatu periode waktu tertentu. Ada tiga macam prosedur time-out, yaitu:

- Siswa tidak dikeluarkan dari setting pengajaran (kelas), tetapi situasi pengajaran disusun sedemikian rupa sehingga reinforcemen positifnya tidak ada.

- Siswa masih berada dalam kelas tetapi dipindahkan dari setting pengajaran. Contoh memindahkan siswa ke depan ruangan untuk berdiri.

- Siswa dikeluarkan dari kelas dan dimasukan kedalam suatu ruangan yang lain, yang sama sekali bebas dari hal-hal yang mengganjar

Level IV : Pemberian stimulus yang tidak menyenangkan

Ada dua macam stimulus menyakitkan, yaitu: stimulus natural dan stimulus yang dikondisikan.

a. Stimulus natural; yakni stimulus-stimulus yang menimbulkan sakit secara fisik dan tidak menyenagkan. Stimulus ini sering disebu dengan hukuman universal (universal funishment) yang tidak dipelajari, misalnya; pukulan, cubitan

b. Stimulus yang dikondisikan, yakni stimulus-stimulus yang diberikan bersama-sama dengan stimulus natural. Misalnya: teriakan bersama dengan pukulan atau cubitan. Cubitan merupakan stimulus natural, sedangkan teriakan merupakan stimulus yang dikondisikan.

c. Overcorrection, yakni prosedur pemberian hukuman dengan cara menyuruh anak melakukan perbaikan berkali-kali atau berlebihan, misalnya menulis “saya tidak bolos lagi” sebanyak 500 kali, atau lebih extrim lagi menyuruh siswa lari keliling lapangan sekolah sebanyak 20 kali atau lebih. Tujuan overcorrection ialah memberi tanggung jawab kepada anak atas tingkah laku yang tak dikehendaki dan mengajarkan tingkah laku baru yang dikehendaki.

Tabel 01: tentang Analisi tingkah laku Consekuensi


DAFTAR RUJUKAN

Albert J. Kearney. 2008. Understanding Applied Behavior Analysis: An Introduction to ABA for Parents, Teachers, and other Professionals. Philadelphia: Jessica Kingsley Publishers

Schloss, P.J. & Smith, M.A. 1994. Applied Behavior Analysis in the Classroom. Boston: Allyn and Bacon


Tidak ada komentar: