Berbakti dengan Ilmu

"Dalam meraih keberhasilan akan penuh dengan tantangan"

December 7, 2017

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY DALAM PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN




A.      Pengantar
Albert Ellis (02 September 1913 – 24 July 2007) adalah seorang psikolog Amerika yang pada tahun 1955 mengembangkan REBT, ia dilahirkan dari keluarga Yahudi di Pittsburgh, Pennsylvania, dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, Ayah Ellis adalah seorang pengusaha yang sering melakukan perjalanan bisnis dan kurang memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya
Dalam otobiografinya, Ellis menyebutkan ibunya sebagai perempuan yang tenggelam dalam kesibukannya sendiri dengan kekalutan pribadi yang bersifat bipolar, dan merupakan “pengoceh yang tidak pernah mendengar orang lain” Dia selalu ngotot dengan pendapatnya dalam banyak hal tetapi juga jarang memberikan dasar factual bagi pendapatnya itu. Seperti ayahnya, ibunya mempunyai jarak emosional dari anak-anaknya. Ellis mengatakan bahwa pada saat dia pergi sekolah, ibunya masih tidur dan pada saat pulang , ibunya sudah tidak ada di rumah. Kepahitan tentang kedua orangtunya itu, dia malah mengambil tanggungjawab untuk mengurus saudara-saudaranya. Sebagai anak-anak, Ellis sering sakit dan menderita berbagai masalah kesehatan pada masa remajanya. Pada umur 5 tahun, dia dirawat dirumah sakit karena penyakit ginjal, kemudian juga karena penyakit amandel, yang menyebabkan infeksi kerongkongan yang parah sehingga memerlukan oprasi. Dia mengatakan bahwa dia mengalami delapan kali perawatan dirumah sakit antara umur 5 sampai 7 tahun, salah satunya diantaranya dirawat selama hampir satu tahun, para orang tuanya hampir tidak memberikan dukungan emosianal dalam tahun-tahun itu, jarang sekali menjenguknya, Ellis mengatakan bahwa dia belajar berkonfrontasi dengan penderitaannya itu.
Ellis merasa takut untuk berbicara di muka umum dan selama masa remajannya benar-benar merasa malu terhadap perempuan, pada umur 19 tahun, telah memperlihatkan dirinya sebagai seorang terapis perilaku-kognitif, dia memaksa dirinya untuk berbicara dengan 100 orang permpuan di Bronx, Botanical Garden selama lebih dari satu bulan, dia selalu berusaha untuk menahan kekecewaan pada saat ditolak bebicara oleh perempuan
Ellis memusatkan studinya dalam bidang psikologi klinis setelah mendapat gelar sarjana muda dalam bidang bisnis dari City university of New York pada tahun 1934. Pada tahun 1942, dia memulai studi Ph.D. dalam bidang psikologi klinis di Teachers College, Colombia University, yang melatih para psikologi terutama dalam pendekatan psikoanalisis. Dia meraih gelar M.A dalam psikologi klinis pada bulan Juni 1943, dan memulai dengan paruh waktu parkatek sambil melanjutkan studinya untuk mencapai Ph.D. Ellis mulai menerbitkan berbagai artikel sebelum dia memperoleh gelar Ph.D. Tahun 1946 dia menulis suatu kritikan mengenai tes kepribadian yang secara meluas menggunakan “tes pensil dan kertas”. Dia menyimpulkan bahwa hanya Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) yang memenuhi standar instrument berbasis penelitian
Pada tahun 1947 Ellis memperoleh Doktor kehormatan di Columbia dan pada saat itu dia menyakini bahwa psikoanaliss merupakan bentuk therapy yang sangat mendalam dan sangat efektif. Seperti halnya dengan para psikolog di saat itu, dia sangat tertarik dengan teori Sigmund Freud. Dia melakukan pelatihan tambahan dalam psikoanalisis dan mulai praktek psikoanlisis klasik. Tahun 1947 Ellis mulai analisi pribadi dan Hermann Rorschach, seorang analis pelatihan terkenal pada Istitut Karen Horney dan pengembang tes tesan tinta Rorschach (Rorschach inkblot test). Pada saat itu dia mengajar di New York University dan Rutgers University dan menduduki posisi pimpinan pada kedua universitas itu. Kemudian lama kelamaan kesetiaannya kepada psikoanalisi memudar
Pendekatan ini dikembangkan semenjak pertengahan tahun 1950-an oleh Albert Ellis, pendekatan ini dikenal dengan rational emotive therapy (RET). Ellis sendiri mengemukakan berbagai masalah emosional yang pernah dideritanya pada masa kecil beserta akibatnya terhadap perilakunya sendiri. Salah satunya dari masalahnya adalah perasaan takut berbicara didepan umum, untuk menanggulagi kecemasan itu Ellis mengembangankan pendekatan Kognitife-filosofis yang dikombinasikan dengan model latihan bicara dan tugas pekerjaan rumah yang mencakup bicara didepan umum, bagaimanapun tidak menyenagkannya pada pemulaan latihan itu, dengan metode tersebut Ellis berhasil menaklukan hambatan-hambatan tersebut
Sebagai bagaian dari latihan praktek berdasar pendekatan psikoanalisis, Ellis menjalani praktek analisi selama tiga tahun, dalam praktek psikoterapinya Ellis menggunakan teknik-teknik psikoanalisis model lama. Di samping memperoleh hasil yang baik dalam praktenya itu, Ellis merasakan ketidakpuasan dengan pendekatan itu, dia merasa jemu dengan peraturan-peraturan psikoanalisi kalsik dan menjadi terapis new-Frudian. Akan tetapi, dia masih juga tidak puas dengan parakteknya itu. Oleh karena itu, dia mulai membujuk konselinya untuk melakukan sesuatu yang sangat ditakutinya untuk melakukan, seperti mengambil resiko penolakan dari orang lain yang sangat berarti baginya. Berangsur-angsur, Ellis berubah menjadi lebih elektik dan lebih aktif dan direktif sebagai seorang terapis. Ellis mengemukakan bahwa dasar falsfah REBT adalah fenomologi. Dia percaya bahwa tidak ada sesuatu yang akan menjegkelkan sesorang, yang menyebabkan sesorang itu menjadi jengkel adalah pandangannya sendiri. Ellis mulai mendapatkan dasar kesulitan emosional dan prilaku konseli-konselinya, yaitu dalam cara mereka merespon dan menafsirkan kenyataan secara subyektif. Ini bertentangan dengan pandangan bahwa masalah individu itu disebabkan oleh situasi dalam dunia nyata.
Dalam formulasi awalnya, Ellis menekankan terapi rasional, yaitu unsur kognitif dari perilaku manusia, asumsi ini sangat bertentangan dengan asumsi yang popular pada pertengahan tahun 1950-an. Kemudian, pendekatannya itu diperluas dengan memasukkan unsur perlaku disamaping unsur kognitif (Ellis, 1962). Modifikasi selanjutnya REBT ini mencakup teknik-teknik konseling perilaku seperti relaksasi, metode khayal, latihan menyerang perasaan malu. Dengan demikian,  REBT ini dapat dipandang sebagai Model terapi perilaku yang berorentasi kognitif. Pendekatan ini telah mengalami evolusi sedemikian rupa, yang pada akhirnya menjelma menjadi pendekatan yang komperhensif dan ekletik yang menekankan unsur-unsur berpikir, menimbang, memutuskan dan melakukan. Akan tetapi pendekatan ini masih tetap mempertahankan arah pemikiran Ellis sendiri yang bersifat didaktis dan direktif, dan REBT masih tetap mempertahankan dimensi berpikir daripada dimensi perasaan
REBT didasari asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi rasional (berpikir langsung) dan juga irasional (berpikir berliku-liku/tidak langsung).keyakinan irasional itu yang menyebabkan gangguan emosional, mungkin telah berbaur dengan hal-hal yang berasal dari luar manusia akan tetapi manusia tetap bertahan pada sikap yang cenderung mengalahkan diri dengan suatu proses indokrinasi diri sendiri. Untuk mengatasi indokrinasi yang membawa hasil berpikir irasional itu, maka para konselor dari REBT menggunakan teknik-teknik yang bersifat aktif dan direktif seperti mengajar, memberi saran, membujuk, dan pemberian tugas pekerjaan rumah, dan mereka menantang konseli-konselinya untuk mengganti keyakinan yang irasional dengan rasional
REBT tidak memandang hubungan antar pribadi antara konseli dan konselor sebagai suatu yang sangat penting dalam proses terapeutik. Yang penting bagi pendekatan ini adalah keterampilan dan kesediaan konselor untuk menantang, mengkonfrontasikan dan menyakinkan konseli mempraktekkan kegiatan (baik di dalam maupun di luar kelompok konseling) yang akan mengarah kepada perubahan yang konstruktif dalam pemikiran dan perbuatan konseli. Pendekatan ini menekankan tindakan berbuat sesuatu mengenai wawasan-wawasan yang diperoleh dalam konseling, diasumsikan bahwa perubahan akan muncul terutama melalui komitmen terhadap niat untuk selalu mempraktekkan prilaku baru yang menantang prilaku lama yang tidak efektif
REBT menggunakan prosedur kelompok sebagai alternative terhadap prosedur individual, Susana kelompok dipandang sebagai suatu suasana yang memberi kesempatan kepada konseli untuk menatang pemikiran yang merusak diri dan untuk mempraktekkan perilaku yang berbeda dengan perilaku lama dan tidak efektif

B.       Tori dan Perkembngan Kepribadian
Teori A – B – C tentang kepribadian dan gangguan emosional merupakan unsur yang sangat penting dalam teori dan praktek pendekatan rasional-emotif ini. Menurut Ellis, manusia membentuk emosi dan perilakunnya sesuai dengan dasar pikiran dan filsafat yang ditemukannya sendiri. Dasar pemikiran itu dibentuk oleh lingkungan sosial manusia yang bersangkutan. Akan tetapi unsur yang terutama membentuk kepribadian dan gangguan perasaan itu bukan kondisi-kondisi sosial itu sendiri, melainkan reaksi manusia sendiri kepada kondisi-kondisi sosial itu. Teori A – B – C berpendapat bahwa apabila sesorang mempunyai reaksi emosional pada titik C (Consequence; akibat) sesudah peristiwa yang mengerakkan yang terjadi pada titik A (Activating; mengerakkan) dalam hal ini bukan bukan peristiwa itu sendiri (A) yang menyebabkan keadaan emosi (C), meskipun A itu dapat memberikan sumbanganya kepada C. Yang menciptakan C itu, sesungguhnya adalah system keyakinan ( B – Belief system; system keyakinan) atau keyakinan yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan. Misalnya; apabila kita merasa ditolak atau disakiti (C) karena suatu peristiwa yang tidak diterimanya cinta oleh si pulan ( A), yang menyebabkan perasaan sakit hati itu bukanlah fakta bahwa kita tidak diterimanya cinta, melainkan keyakinan (B) mengenai peristiwa itu, karena menyakini bahwa tidak diterima/ditolak cintanya itu berarti bahwa kita adalah seorang yang gagal dan bahwa upaya kita selama ini tidak mendapat penghargaan. Keyakinan itulah yang membentuk akibat emosional dalam bentuk perasaan ditolak dan disakiti, jadi manusia itu bertanggung jawab dalam menciptakan gangguan emosinya sendiri melalui keyakinan-keyakinan yang dihubungkannya dengan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya
Pendekatan rational emotive behavior therapy berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kapsitas untuk mengubah kognisinya, perilakunya, dan perasaan-perasaannya. Apabila manusia memaksakan pilihan untuk berpikir dan bertindak lain, maka dia dapat dengan segera mengubah pola menciptakan gangguan itu menjadi cara hidup yang konstruktif. Dia dapat menyelesikan tugas mencapai tujuan itu dengan menghidarkan keadaan dirinya yang terlena dengan A – yaitu peristiwa – dan dengan mengenal terapi menolak goadaan untuk terus menerus memikirkan akibat emosional pada titik C. orang dapat memilih jalan menguji, menantang, memodifikasi, dan meruntuhkan B – yaitu keyakinan irasional mengenai A. Ellis menekankan bahwa, karena manusia dapat berpikir, mereka dapat pula memilih dirinya sendiri untuk mengubah atau menghilangkan keyakinan yang menghambat dirinya, dengan melatih disiplin diri, dengan mencari bantuan dari orang-orang yang mampu berpikir secara obyektif dan rasional, dengan menjalani terapi individual atau konseling kelompok, dan dengan membaca buku-buku tentang REBT atau mendengarkan kaset
Perasaan cemas, tertekan, ditolak, marah, dan terkucilkan dimulai dan diabaikan oleh system keyakinan yang cenderung mengalahkan diri sendiri didasarkan atas gagasan-gagasan irasional yang didekanpnya tampa kritik pada masa kanak-kanak. Keyakinan yang cenderung mengalahkan diri sendiri itu didukung dan dipertahankan dengan pernyataan-pernyaan tentang dirinya yang negative, mutlak dan tidak logic yang dikatakan oleh orang lain terus-menerus. Pernyataan-pernyataan itu kemudian diterimnaya sebagai ciri pribadinya, seperti: “Saya ini orang yang tidak berguna”, “Apabila saya tidak memperoleh cinta dan persetujuan orang lain, maka saya busuk”, “Seharusnya saya bener-benar mampu dalam segala hal yang saya lakukan”, “Saya harus memiliki segala sesuatu sesuatu yang saya inginkan”.
Apabila orang hidup secara rasional, memiliki keyakinan yang positif, maka mereka akan cenderung merasa bahagia, santai, atau sekurang-kurangnya tenang; sebaliknya, apabila orang itu menyembunyikan, gagasan-gagasan yang sinis, pesimistik, dan putus asa, maka dia akan cenderung merasa bersedih, tertekan, dan putus asa. Oleh karena itu konseling yang efektif akan mencakup upaya membantu konseli mengembangkan sikap yang realistik terhadap masa kini dan masa depannya, memerangi keyakinan-keyakinan negatifnya, dan mengubah pernyataan yang menghambat tentang dirinya menjadi pernyataan-pernyataan yang baru yang lebih rasional, dan lebih sehat
 Sebagai suatu model konseling kognitif, REBT mengajar orang-orang untuk mengkonfrontasikan system keyakinan yang menciptakan gangguan. Tujuan ini akan tercapai dengan menjelaskan bagaimana gagasan-gagasan irasional menyebabkan gangguan emosional, dengan menyerang gagasan-gagasan itu secara ilmiah, dan dengan mengajar konseli tentang bagaimana konseli harus menatang pemikirannya dan tentang bagaimana menganti gagasan-gagasan irasional dengan rasional
Proses terapeutik dimulai dengan mengajarkan teori A – B – C kepada konseli. Apabila konseli telah melihat bagaimana keyakinan dan nilai–nilai irasional itu berkaitan serta sebab akibat dengan gangguan emosional dan perilaku, dia telah siap untuk membantah keyakinan dan nilai–nilai itu pada titik D (Disputing; membantah). D merupakan penerapan prinsip–prinsip ilmiah untuk menantang filsafat yang cenderunmg mengalahkan diri sendiri dan mengalahkan dugaan-dugaan yang irasional dan tidak dapat dibuktikan. Kebnayakan dari gagasan-gagasan irasional itu dapat dikembalikan kepada tiga bentuk keharusan, yaitu: 1) saya harus mampu, dan saya harus memperoleh persetujuan dari orang-orang yang berarti dalam hidup saya; 2) orang lain harus memperlakukan saya dengan adil dan penuh perhatian; dan 3) Hidup saya harus enak dan menyenagkan. Saya harus memiliki sesuatu yang benar-benar saya inginkan. Dalam hal sedemikaian itu, konselor rasional emotif secara cepat dan efesien mencoba menunjukkan kepada konseli-konselinya, bahwa mereka mempunyai satu, dua dan tiga-tiganya dari keyakianan yang irasional itu. Apabila mereka telah menyakini akan adanya ketiga bentuk keharusan itu, maka mereka telah sampai pada atau akibat bantahannya itu atau pada titik E (akibat), yaitu melepaskan paham merusak diri, perolehan filsafat hidup yang lebih realistik dan rasional, dan penerimaan terhadap frustasi-frustasi yang tidak dapat dielakkan dalam hidup. Filsafat hidup yang baru, dengan sendirinya mempunyai sisi yang praktis, yaitu E yang kongkrit, dalam contoh yang dikemukakan di atas mengenai peristiwa ditolak cintanya pada titik E ini, kita dapat membuat kesimpulan yang empiris dan rasional, seperti: “ya, sungguh tidak enak bahwa saya ditolak cinta oleh si pulan, tetapi hal itu bukan merupakan akhir dari dunia ini. Lain kali mungkin ada kesempatan lain. Di samping itu, tidak mendapat Cintanya berarti bahwa saya adalah orang yang gagal. Jadi saya tidak perlu terus menerus berbicara tentang segala macam yang tidak perlu itu”. Yang penting bagi REBT, hasil akhir dari konseling adalah hilangnya perasaan tertekan dan ditolak
Menurut Ellis, kita mempunyai suatu kecenderungan yang kuat untuk menilai tindakan dan perilaku kita sebagai “baik” atau “buruk”. Di samping itu kita mempunyai kecenderungan pula untuk menilai diri kita sendiri sebagi keseluruhan pribadi sebagai “baik” atau “buruk” berdasarkan penampilan kita. Penilaian diri kita itu mempengaruhi perasaan dan tindakan kita, karena proses penilaian diri ini merupakan salah suatu sumber dari gangguan emosional kia. Oleh karena itu konselor REBT mengajar para konselinya tentang bagaimana memisahkan penilaian perilakunya dari penilaian tentang pribadinya dan mengajar bagaimana mereka menerima dirinya sendiri dengan ketidak sempurnaannya. Berapa contoh dari penilaian diri adalah: “kenyataan bahwa saya membuat kesalahan berarti bahwa saya tidak mampu dan tidak berguna”, “Saya telah melakukan tidakan yang salah, jadi saya ini jelek, bersalah dan memalukan”, “Apabila orang-orang tidak menerima dan tidak menyetujui saya, maka saya ini seorang yang brengsek”.
Penilaian diri semacam ini, jelas mengarah kepada berbagai kesulitan, misalnya menempatkan diri sebagai orang yang paling penting, kecendrungan mengutuk diri sendiri dan orang lain, tidak pernah merasa puas, dan menghambat pencapaian tujuan sendiri
Beberapa asumsi dasar REBT yang dapat dikategorikan di bawah ini antara lain:
-            Berpikir, merasa dan berperilaku serta berinteraksi secara terus-menerus akan mempengaruhi satu sama lain
-            Gangguan emosional yang disebabkan atau dikontribusikan oleh faktor kompleks biologis dan lingkungan. Untuk memahami permasalahan dan bekerja dengan manusia tidak perlu menghabiskan banyak waktu mengeksplorasi trauma emosional masa lalu atau menghidupkan kembali masa kanak-kanak
-            Manusia akan terpengaruh oleh orang-orang dan hal-hal di sekitar mereka, dan mereka juga sengaja mempengaruhi orang di sekitar mereka. Orang memutuskan, atau memilih, untuk mengganggu mereka - atau tidak mengganggu diri mereka sendiri - sebagai tanggapan terhadap pengaruh sistem di mana mereka tinggal
-            Orang-orang mengganggu kognitif diri mereka sendiri, secara emosional, dan berperilaku. Mereka sering berpikir dengan cara yang mengalahkan kepentingan terbaik mereka serta yang lain dalam kelompok sosial mereka
-            Ketika kejadian yang tidak menyenagkan terjadi, orang cenderung untuk menciptakan keyakinan irasional tentang peristiwa yang ditandai dengan absolutis dan berpikir dogmatis. Biasanya, keyakinan irasional ini dipusatkan pada kompetensi dan sukses, cinta dan persetujuan, yang diperlakukan dengan adil, dan keselamatan dan kenyamanan
-            Kejadian yang tidak menyengkan itu terjadi hal ini tidak menyebabkan gangguan emosi, melainkan keyakinan irasional yang sering menimbulkan masalah kepribadian
-            Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang luar biasa untuk membuat dan menjaga diri mereka terganggu secara emosional. Dengan demikian, mereka menemukan hampir tidak mungkin dalam menjaga kesehatan mental yang baik. Kecuali mereka dengan jelas dan berpikir keras dalam mengakui kenyataan, mereka akan membuat usaha yang terbaik untuk mengubah mereka
-            Ketika orang-orang berperilaku dengan cara-mengalahkan diri, mereka memiliki kemampuan untuk menjadi sadar cara dimana keyakinan negatif mereka mempengaruhi mereka. Dengan kesadaran ini mereka juga memiliki kapasitas untuk sengketa pikiran irasional dan mengubahnya menjadi keyakinan rasional. Dengan mengubah keyakinan tentang peristiwa-peristiwa tertentu, orang juga mengubah perasaan yang tidak sehat dan perilaku-mengalahkan diri
-            Setelah ditemukan keyakinan irasional, mereka dapat dinetralkan dengan menggunakan kombinasi metode kognitif, emotif, dan perilaku. REBT memiliki berbagai teknik menunjukkan orang-orang bagaimana meminimalkan pikiran mereka sendiri, perasaan, dan perilaku
-            Klien lebih baik bersedia untuk (1) mengakui bahwa mereka bertanggung jawab terutama atas pikiran terganggu, emosi, dan tindakan mereka sendiri, (2) melihat bagaimana  mereka berpikir, merasa, dan berperilaku ketika mereka mengganggu diri mereka sendiri, dan (3) memaksakan dalam berkerja keras yang akan dibutuhkan untuk mengubah diri mereka
C.      Rational Emotive Behavior Therapy dalam Konseling Kelompok
Seperti telah dikemukakan di atas, konseling rasional emotif behavior terapi menekankan penataan kembali kognisi dan sangat tergantung pada sisi didaktis dari proses terapeutiknya. Konseling dipandang secara luas sebgai upaya pendidikan kembali emosi dan intelektual, seperti halnya bentuk-bentuk mengajar lainnya, REBT sering dilakukan dalam suasana kelompok. Konseling kelompok rasional emotif behavior banyak digunakan alat pandang, dengar, bacaan, film, kaset video, pelajaran berprograma, dan metode mengajar lainya.
Ellis (1977) mengemukakan bahwa diharapkan intervrestasi kelompok itu akan merupakan cara pemecahan masalah yang lebih mendalam, lebih cepat dan halus dibandingkan dengan bentuk konseling manapun. Untuk mencapai pemecahan masalahnya, para anggota kelompok harus belajar memisahkan keyakinan yang rasional dari keyakinan yang irasional dan memahami asal mula gangguan emosionalnya dan juga gangguan perasaan orang lain. Para peserta diajar berbagaicara untuk 1). Membebaskan diri dari filsafat hidup yang irasional sehingga mereka dapat berfungsi secara efektif sebagai individu, dan 2). Belajar tentang cara-cara yang lebih tepat untuk memberikan respon sehingga mereka tidak perlu terganggu oleh berbagai kenyataan dalam hidup. Para anggota kelompok saling membantu dan mendukung dalam upaya belajar
Tujuan utama dari konseling REBT adalah agar para konseli dapat menguji tampa ketakutan dasar pemikiran filsafat hidupnya, berpikir tentang dasar-dasar pemikiran secara sadar dan secara bersama-sama, memahami bahwa mereka bertindak berdasarkan asumsi-asumsi atau kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis dan tidak konsisten, dan menyerang asumsi dan kesimpulan itu dengan kegiatan verbal dan motorik secara konsisten sehingga semuanya itu hilang atau sedikitnya berkurang sampai batas minimum. Ellis berpendapat bahwa konseling kelompok REBT ini dapat dilakukan dengan kelompok besar yang beranggotakan 50, 100 orang atau lebih, dengan menggunakan bentuk lokakarya atau dapat pula dilaksanakan dengan kelompok kecil yang beranggotakan 10 sampai 13 orang. Kelompok kecil bertujuan:
1.         Membantu para anggota kelompok untuk memahami agar masalah emosional dan perilakunya dan menggunakan wawasan itu untuk mengatasi gejala-gejalanya dan belajar tentang cara-cara yang halus untuk berperilaku
2.         Memberi kesempatan kepada para peserta untuk mengembangkan pemahaman tentang masalah orang lain, dan mereka belajar bagaimana dirinya dapat memberi bantuan terapeutik kepada rekan sekelompoknya
3.         Memberi kesempatan kepada para peserta untuk belajar tentang cara-cara untuk memahami keadaan kehidupan dan memberikan reaksi yang rasional kepadanya, sehingga mampu menguragi gangguan terhadap dirinya sendir
4.         Memberi kesempatan kepada para peserta untuk mencapai perubahan perilaku dan kognisi dasarnya, termasuk mempelajari cara-cara untuk menghadapi kenyataan yang tidak menyenagkan, mengalahkan cara berpikir yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan menggantikannya dengan cara berpikir yang rasional, dan menghentikan praktek penilaian diri yang negative, dan belajar memperlakukan dirinya sebagai manusia yang mungkin melakukan kekeliruan
Pada dasarnya, para peserta diajarkan bahwa mereka bertanggung jawab tentang reaksi emosinalnya sendiri, bahwa dapat mengubah gangguan-gangguan emosionalnya sendiri dengan memperhatikan verbalitas dirinya dan dengan mengubah keyakinan dan nilai-nilai yang dianutnya, dan bahwa apabila mereka memperoleh filsafat hidup yang baru dan lebih relistik, lalu mereka akan dapat mengahadapi secara efektif peristiwa-peristiwa yang paling tidak menguntungkan dalam hidupnya
Menurut Ellis, suasana kelompok sangat efektif untuk membantu para peserta dalam mengubah kepribadian dan perilaku secara konstruktif Ellis mengemukakan berbagai keuntungan dari pelaksanaan REBT dalam kelompok, antara lain adalah:
1.         Para anggota kelompok dapat memperigatkan satu sama lain mengenai kehendak menerima kenyataan dan bekerjasama menghasilkan perubahan yang positif
2.         Karena REBT menekankan diri sendiri, maka anggota kelompok yang lain dapat memainkan peran penting dalam menantang cara berpikir yang irasional
3.         Para anggota kelompok dapat memberikan sumbangan dalam bentuk saran, komentar, dan hipotesis, dan menguatkan hal-hal yang dikemukakan oleh konselor
4.         Tugas-tugas pekerjaan rumah yang merupakan unsur penting dalam REBT lebih efektif apabila dilakukan dalam sussana kelompok dari pada dalam konseling individual
5.         Susana kelompok memberikan lingkungan yang efektif untuk berbagai prosedur yang bersifat aktif-direktif, seperti permainan peranan, latihan bertindak tegas, gladi prilaku, percontohan, dan latihan mengambil resiko
6.         Kelompok berfungsi sebagai laboraturium dimana perilaku dapat diamati secara langsung
7.         Konseli seringkali menyelesaikan format laporan pekerjaan rumah yang menuntut penelusuran situasi yang menggangu dengan prosedur A – B – C dan kemudianan belajar cara bagaimana memperbaiki pemikiran dan perbuatan yang salah. Degan mendengarkan laporan-laporan yang dikemukakan oleh orang lain dan mempelajari bagaimana orang lain menghadapi situasi yang dipersoalkan, maka para peserta dapat juga menagani permasalahannya sendiri. Meskipun tugas pekerjaan rumah itu dapat dilaksanakan dalam konseling individual, suasana kelompok lebih efektif, karena para anggota dapat melatih perilaku yang ingin mereka tingkatkan dan hilangkan dalam kehidupannnya di lingkungan hidup yang sesungguhnya. Jadi, apabila seorang merasa takut untuk memberikan reaksi kepada orang lain, maka dia dapat didorong untuk mengerjakannya di dalam pertemuan kelompok. Kelopok berfungsi sebagai laboraturium dimana perilaku dapat diamati, dan bukan hanya wahana yang akan dilaporkan hasil pekerjaan rumah
8.         Dalam situasi kelompok para anggota kelompok menemukan bahwa mereka tidak perlu mengutuk dirinya sendiri karena memiliki masalah
9.         Melalui balikan diri orang lain dalam kelompok para peserta mulai memandang dirinya sendiri sebagai orang lain memandang dirinya, dan melihat secara jelas perilakunya yang perlu diubah
10.     Apabila pernyataan yang dikemukakan para anggota menunjukkan pemikiran yang keliru, anggota lainnya dan konselor dapat segera memperlihatkan kekeliruan itu kepada yang bersangkutan, sehingga pemikiran yang keliru itu dapat segera diperbaiki
11.     Dengan memperhatikan anggota-anggota lain, para peserta dapat melihat bahwa perlakuan bantuan dapat menjadi efektif, bahwa manusia dapat berubah, bahwa ada langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk membantu dirinya sendiri dan bahwa konseling yang berhasil adalah suatu pekerjaan yang sulit dan memerlukan ketahanan
12.     Dalam kelompok, konseli mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan alternatif yang lebih luas untuk memecahkan persoalan mereka dari pada dalam konseling individual
13.     Kelompok memberikan kesempatan dan dorongan ke pada anggota-anggotanya untuk mengungkapkan dirinya dan mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi secara intim. Pengungkapan diri secara intim itu merupakan kegiatan terapeutik dengan sendirinya, karana dengan pengungkapan diri itu konseli telah mengambil keputusan untuk mengambil resiko, bahwa dia mungkin ditertawakan orang, dicemoohkan orang, atau sama sekali dikucilkan dari kelompok
14.     Karena REBT sangat bersifat kependidikan dan didaktis, maka dalam kegiatannya banyak mencakup pemberian informasi dan diskusi untuk menentukan strategi pemecahan masalah. Ditinjau dari sisi praktis dan ekonomis, maka kegiatan semacam itu lebih baik dilaksanakan dalam bentuk kelompok daripada dalam suasana individual, kelompok juga memberikan Susana untuk mengajar, belajar, diskusi dan praktek yang mendorong para peserta menjadi terlibat secara aktif dalam upaya penyembuhan
15.     Kelompok REBT bertemu rata-rata dua setengah jam setiap pertemuan, yaitu pertemuan yang disertai konselor, waktu itu ditambah pula dengan pertemuan lanjutan tampa konselor selama lebih kurang satu jam. Waktu selam ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta untuk secara efektif saling menantang keyakinan yang cenderung mengalahkan diri sendiri yang telah tertanam dalam diri konseli secara kaku
16.     Prosedur kelompok secara khusus bermanfaat bagi orang-orang yang terikat secara kaku oleh pola prilaku yang salah fungsi, karena suasana kelompok memberikan tantangan yang diperlukan untuk menilai kembali pola-pola yang salah itu dan mengambil pola baru yang lebih sehat dan lebih efektif
 D.      Peran dan Fungsi Konselor
Kegiatan terapeutik kelompok REBT dilaksanakan dengan satu tujuan utama, yaitu membantu para peserta mengusur gagasan-gagasan irasionalnya dan menggantikannya dengan gagasan-gagasan yang logis. Tujuan akhirnya adalah untuk memungkinkan para anggota kelompok menginternalisasikan suatu filsfat hidup yang rasional, apabila mereka telah menginternalisasikan keyakinan-keyakinan yang dogmatis dan keliru yang diperolehnya dari lingkunagan sosial budayanya
Dalam bekerja kearah pencapaian tujuan utama itu konselor kelompok mempunyai fungsi-fungsi dan tugas-tugas khusus. Tugas pertamanya adalah menunjukkan kepada para anggota kelompok bagaimana mereka telah menciptakan kesengsaraannya sendiri. Tugas ini dilakukannya dengan mengklarifikasikan hubungan antara gangguan emosional dan perilaku mereka dengan nilai-nilai, keyakinan, dan sikap-sikapnya. Dengan bantuan konselor, mereka dapat melihat bagaimana mereka secara tidak berpikir-pikir menerima seperangkat “keharusan”. Konselor bertindak sebagai orang yang melakukan lawan propaganda yang mengkonfrontasikan para anggota dengan propaganda yang telah diterimanya pada permulaan tampa memikirkan arti sesungguhnya dari propaganda itu, dan menunjukkan kepada mereka bagaimanasekarang dia melanjutkan indoktrinasinya sendiri dengan asumsi-asumsi yang tidak teruji. Konselor kelompok membujuk para anggota untuk melibatkan diri di dalam kegiatan-kegiatan yang akan bertindak sebgai wahana lawan propaganda
Untuk membantu konseli memerangi gagasan-gagasan tidak logis dan mengantinya dengan yang logis, maka konselor kelompok berusaha keras untuk mengubah pemikirannya. REBT berasumsi bahwa keyakinan yang tidak logis sesorang itu demikian tertanamnya secara mendalam sehingga tidak mudah untuk mengubahnya. Dengan demikian, peran konselor dalam hal ini adalah mengajar para anggota tentang bagaimana menantang asumsi-asumsinya dan bagaimana seyogyanya mereka memutus lingkaran setan mengenai proses penilaian diri yang negative dan tindakan menyalahkan diri
Menghilangkan gejala gangguann emosional dan perilaku adalah belum cukup. Apabila hanya masalah atau gejala khusus saja yang ditangani, ketakutan irasional lainnya akan muncul. Jadi dalam ini peran lain dari konselor kelompok adalah mengajar para nggota kelompok untuk menghidarkan diri dari kemungkinan menjadi korban dari keyakinan irasional pada masa yang akan dating. Dalam hal ini konselor kelompok menyerang pemikiran konseli yang tidak logis dan mengajar mereka tentang bagaimana menerapkan cara berpikir logis pada waktu menghadapi masalah pada waktu yang akan datang
Karena REBT adalah suatu proses kependidikan, maka peran konselor kelompok yang paling penting adalah mengajar para anggota kelompok mengenai cara untuk memahami diri dan mengubah diri. Para konselor dari pendekatan REBT menggunakan teknik-teknik yang tepat dan bertubi-tubi dan sangat dirktif yang menekankan unsur kognitif
 E.       Pandangan irasional yang merupakan sumber prilaku irasional adalah sebagai berikut:
  1. Orang harus selalu dicintai dan diterima oleh setiap orang dilingkungan agar berharga
  2. Orang harus memiliki kemampuan campuran dalam rangka agar berharga
  3. Orang yang jahat, keji, dan kejam harus dicela dan dihukum seberat-beratnya
  4. Suatu bencana besar, bila suatu peristiwa terjadi tidak seperti yang dikehendaki seseorang
  5. Ketidakbahagiaan itu berasal dari luar dari individu karena itu individu tersebut tidak punya kemampuan untuk menghadapi ketidakbahagiaan tersebut
  6. Orang harus terus menerus mengeluhkan dan memikirkan peristiwa yang berbahaya atau merugikan
  7. Lebih mudah menghindari kesulitan dan tanggung jawab dari pada menghadapinya
  8. Orang perlu bergantung pada orang lain yang lebih kuat dari pada dirinya
  9. Masa lalu sesorang menentukan prilaku saat ini dan tidak dapat diubah
  10. Orang harus perhatian dan gelisah dengan masalah dan kondisi orang lain
  11. Hanya ada satu jawaban yang sempurna untuk setiap masalah dan bencana besar jika jawaban tersebut tidak ditemukan
 F.       Daftar Pustaka
Corey, G 2004. Theory and Practice of Group Counseling. Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole
Corey, G 2004. Student Manual:Theory and Practice of Group Counseling. Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole
Corey, M.S. & Corey, G. 2006. Process and Practice of Group Counseling. Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole
Ivey, Allen E., Michael D’Andrea, Mary Bradford Ivey, Lynn Simek Morgan. 2009. Theories of Counseling and Psychotherapy a multicultural perspective. New York. Pearson

No comments: